Saya tulis artikel ini karena saya menyaksikan langsung era dimana manusia malah makin menurun akal dan moralnya akibat dijaman serba cepat dan instan. yang mana malah memperlemah dan mempersingkat kehidupan manusia itu sendiri.
Ketika Algoritma Mempercepat Kedewasaan (pubertas) dan Mematikan Nalar
Dahulu, kedewasaan adalah sebuah proses pendakian yang lambat, penuh rintangan, dan membutuhkan ketabahan. Namun hari ini, kita hidup di era "Prematur Kuadrat". Dunia tidak hanya berjalan cepat; ia sedang berlari menuju jurang kedangkalan. Fenomena yang dahulu dibahas sebagai "kerusakan zaman" kini telah bermutasi menjadi monster digital yang merasuki syaraf-syaraf manusia melalui layar gadget, algoritma TikTok, dan mimpi-mimpi instan yang mematikan.
1. Biologi yang Dipaksa: Pubertas di Ujung Jari
Secara medis, kita melihat tren yang mengkhawatirkan: usia pubertas anak-anak semakin maju. Jika dahulu anak perempuan mengalami menarche (haid pertama) di usia 12–14 tahun, kini banyak yang mengalaminya di usia 9 atau 10 tahun. Mengapa?
Selain faktor nutrisi dan makanan cepat saji (fast food) yang sarat hormon, faktor stimulasi visual memegang peran kunci. Gadget adalah mesin perangsang dopamin dan hormon seksual yang bekerja nonstop. Paparan konten dewasa, tarian erotis yang dibalut "tren" di media sosial, hingga interaksi tanpa batas di ruang siber, memaksa otak melepaskan hormon sebelum waktunya.
Hasilnya? Kita mendapati anak-anak dengan fisik dewasa namun dengan mentalitas yang rapuh. Mereka memiliki hasrat biologis orang dewasa, tetapi kapasitas kontrol diri seorang balita. Inilah awal mula bencana moral: ketika tubuh sudah "matang" namun akal belum "sampai".
2. Tirani Algoritma dan Matinya Proses
TikTok dan platform video pendek lainnya telah mengubah cara kerja otak manusia. Kita terjebak dalam durasi 15 detik yang menawarkan kepuasan instan. Otak kita diprogram untuk tidak lagi sabar menunggu. Sesuatu yang lambat dianggap membosankan, sesuatu yang butuh proses dianggap kuno.
Pola pikir "serba instan" ini merusak tatanan kehidupan. Jika untuk terhibur saja kita hanya butuh usapan jari (scroll), maka untuk hal-hal besar dalam hidup pun kita menuntut kecepatan yang sama. Manusia modern tidak lagi ingin menanam; mereka ingin langsung memanen. Inilah yang menyebabkan lahirnya generasi yang "cepat matang, cepat pula mati"—mati kreativitasnya, mati daya juangnya, dan mati nuraninya.
3. Ekonomi Halusinasi: Dari Investasi Bodong hingga Judi Online
Penyakit instan ini mencapai puncaknya pada sektor ekonomi. Fenomena "Prematur Kuadrat" membuat orang ingin kaya sebelum bekerja, dan ingin mapan sebelum berkeringat.
Investasi Bodong: Mengapa jutaan orang tertipu robot trading atau skema Ponzi? Karena janji keuntungan besar dalam semalam lebih menarik daripada menabung bertahun-tahun.
Judi Online (Judol): Inilah candu paling mengerikan di era ini. Rakyat kecil hingga kalangan terpelajar terjebak dalam harapan palsu di balik layar ponsel. Mereka tidak sadar bahwa algoritma sudah dirancang untuk membuat mereka kalah, namun sifat "ingin instan" menutup akal sehat.
Dunia seolah menawarkan jalan pintas di dalam jalan pintas. Orang ingin kaya lewat investasi, di dalam investasi itu mereka mencari cara yang lebih cepat lagi melalui spekulasi buta. Hasilnya bukan kesejahteraan, melainkan depresi, utang pinjol yang mencekik, hingga bunuh diri.
4. Normalisasi Perzinaan di Era "Selfie"
Jika artikel asli menyoroti aborsi, maka hari ini kondisinya jauh lebih kompleks. Perzinaan tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di sudut gelap, melainkan dipamerkan melalui "soft-porn" di media sosial atas nama kebebasan berekspresi.
Budaya pacaran telah berevolusi menjadi gaya hidup "f*ck buddy" atau "situationship" yang tanpa komitmen. Ketika teknologi mempermudah pertemuan (dating apps), nilai kesakralan tubuh manusia merosot menjadi sekadar komoditas. Akibatnya, angka aborsi tidak hanya tinggi, tetapi seringkali dianggap sebagai "solusi medis" biasa ketimbang sebuah tragedi kemanusiaan dan dosa besar.
5. Krisis Akhlak: Sekolah Tanpa Jiwa
Pendidikan formal saat ini seringkali hanya menjadi pabrik ijazah. Anak-anak pandai menggunakan teknologi, mahir mengedit video, namun gagap dalam tata krama (adab). Kita melihat fenomena di mana siswa berani melawan guru, anak menghujat orang tua di kolom komentar, dan perundungan (bullying) yang dilakukan secara digital tanpa rasa bersalah.
Pendidikan kehilangan "ruh" karena terlalu fokus pada angka dan kompetensi teknis, sementara pembangunan karakter dianggap sebagai beban kurikulum semata. Kita mencetak tenaga kerja, bukan manusia beradab.
6. Penutup: Kembali ke Akar di Tengah Arus
Dunia yang kita huni sekarang adalah dunia yang prematur. Kita dipaksa tumbuh lebih cepat dari kapasitas jiwa kita untuk menampungnya. Untuk melawan "Kerusakan Zaman" di era digital ini, tidak ada jalan lain selain menarik rem darurat.
Digital Detox: Membatasi paparan layar untuk mengembalikan fungsi kognitif dan kestabilan hormon.
Literasi Spiritual: Menanamkan kembali nilai agama bukan sebagai ritual semata, melainkan sebagai benteng logika agar tidak mudah tertipu janji instan duniawi.
Menghargai Proses: Menyadari bahwa sesuatu yang berharga selalu membutuhkan waktu, keringat, dan kesabaran.
Kita harus berani menjadi "lambat" di dunia yang terlalu cepat. Karena pohon yang dipaksa berbuah dengan zat kimia (karbitan) mungkin akan cepat panen, tetapi rasanya hambar dan pohonnya akan cepat mati. Begitu pulalah manusia. Jangan sampai kita menjadi generasi yang matang sebelum waktunya, hanya untuk membusuk sebelum sempat memberi manfaat.






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah