Dalam memori kolektif kita, pepatah lama berbunyi: "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Sebuah doktrin yang mengajarkan ketabahan sementara demi kejayaan di masa depan. Namun, di bawah langit abad ke-21 yang polutif dan bising, pepatah itu telah bermutasi menjadi sebuah sarkasme yang getir: Bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian. mirip lagu slang jamrud.
Inilah kisah tentang sebuah peradaban yang lupa cara bernapas. Kisah tentang "Qarun-Qarun kecil" yang menghabiskan seluruh sisa oksigen di paru-parunya hanya untuk menghitung angka di layar digital, hingga saat angka itu mencapai puncaknya, jantung mereka berhenti berdetak. Mereka mati di depan tumpukan harta yang belum sempat dicicipi, meninggalkan warisan berupa entropi dan kesia-siaan yang absolut.
I. Perlombaan Dunia Menuju Liang Lahat
Fenomena manusia modern yang terobsesi pada angka dan akumulasi telah digambarkan dengan sangat presisi dalam Al-Qur'an melalui Surah At-Takasur. Allah SWT berfirman:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." (QS. At-Takasur: 1-2)
Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan diagnosa psikologis yang akurat. Kata Al-Takasur merujuk pada keinginan untuk saling memperbanyak dan saling mengungguli dalam hal jumlah—baik itu jumlah pengikut di media sosial, jumlah saldo di rekening, maupun jumlah aset properti. Penyakit ini bersifat "melalaikan" (alhaakum), artinya ia membuat manusia lupa akan hakikat keberadaannya.
Manusia modern hidup dalam ilusi bahwa mereka akan hidup selamanya untuk menikmati hasil tumpukannya, padahal "garis finish" dari perlombaan itu bukanlah kebahagiaan, melainkan liang lahat. Kita bersakit-sakit menumpuk materi, lalu mati tepat saat tumpukan itu baru saja dimulai.
II. Kebangkitan Qarun Kecil dan Pemujaan Materi
Dalam literatur sejarah dan agama, Qarun adalah simbol akumulasi harta yang melampaui batas hingga kuncinya saja harus dipikul oleh sekelompok pria kuat. Ia sombong dan berkata bahwa kekayaannya didapat murni karena "ilmunya". Allah berfirman tentang akhir hidupnya:
"Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah..." (QS. Al-Qasas: 81)
Hari ini, Qarun muncul dalam bentuk jutaan manusia yang merasa bahwa harga diri mereka setara dengan aset digital. Mereka hidup dengan ketakutan neurotik akan kekurangan. Namun, ada satu hukum kosmis yang mereka abaikan: Kapasitas tubuh manusia untuk menikmati materi itu terbatas, sementara keinginan untuk menumpuknya tidak terbatas.
Seorang manusia hanya bisa tidur di satu kasur dalam satu waktu, meski ia memiliki seribu vila. Perut manusia hanya bisa menampung jumlah kalori yang sama, baik ia makan di pinggir jalan maupun di hotel berbintang lima. Ketika akumulasi harta melewati batas fungsi kegunaannya, harta tersebut berubah menjadi beban psikologis (entropi).
III. Jalan Pintas Menuju Kehancuran: Judi Online dan Investasi Bodong
Karena virus "cepat kaya" telah menginfeksi syaraf pusat, manusia tidak lagi sabar dengan proses. Keinginan untuk melompati waktu melahirkan fenomena yang aneh sekaligus tragis: judi online (judol) dan investasi bodong.
Logikanya telah lumpuh. Mereka ingin kaya secara instan karena merasa hidup sudah terlalu sakit. "Kalau harus bersakit-sakit, biar sebentar saja, setelah itu saya ingin segera kaya," pikir mereka. Ketidaksabaran ini adalah celah bagi para predator ekonomi.
Hal ini mengingatkan kita pada larangan keras Allah terhadap maysir (judi). Mengapa judi dilarang? Karena ia adalah bentuk "memakan harta sesama dengan jalan yang batil" (QS. Al-Baqarah: 188) dan merupakan cara mendapatkan sesuatu tanpa proses kerja nyata (produktivitas). Investasi bodong dan judi online adalah Prematur Kuadrat: ingin hasil sebelum menanam, ingin panen sebelum tumbuh. Akhirnya, mereka bukan hanya kehilangan uang, tapi juga kehilangan kewarasan dan waktu yang tak bisa diputar kembali.
IV. Analogi Pohon Beringin: Hukum Kosmis Kekayaan
Kita perlu belajar kembali kepada alam. Lihatlah Pohon Beringin. Ia adalah analogi paling akurat tentang bagaimana kemuliaan seharusnya dibangun. Allah memberikan perumpamaan yang indah tentang hal ini:
"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya..." (QS. Ibrahim: 24-25)
Pohon beringin tidak tumbuh besar dalam semalam. Ia memulai dari biji kecil, menumbuhkan akar yang menghujam dalam ke bumi (karakter dan integritas), lalu perlahan menyebarkan dahan yang rindang. Karena ia tumbuh dengan alami, ia mampu bertahan menghadapi badai selama ratusan tahun.
Bandingkan dengan "kekayaan instan" yang ibarat tanaman parasit; ia tumbuh cepat namun rapuh, dan seringkali mencekik inangnya sendiri hingga mati. Apa pun yang datang dengan sangat cepat tanpa pondasi mental yang kuat, akan pergi dengan sangat cepat pula.
V. Sinkronisasi Jiwa dan Raga: Kebahagiaan yang Terlupakan
Kebahagiaan sejati sebenarnya "murah", namun menjadi sangat mahal bagi mereka yang terjebak dalam gaya hidup modern. Kita berjam-jam duduk di kantor, menghirup udara daur ulang, dan lupa bahwa:
Jantung butuh oksigen murni dari alam ciptaan Allah.
Kaki butuh berpijak ke tanah, mengakui bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali ke sana.
Saat kita mengabaikan kebutuhan biologis dan spiritual ini demi mengejar tumpukan materi, kita sedang menciptakan ketidaksinkronan. Jiwa kita meronta dalam kemewahan karena ia sebenarnya membutuhkan ketenangan (sakinah), bukan sekadar kesenangan (mut'ah).
VI. Penutup: Kesia-siaan Sang Penimbun
Tragedi terbesar dari "Bersakit-sakit dahulu, malah mati kemudian" adalah saat seseorang kolaps di garis finish yang ia buat sendiri. Harta yang dikumpulkan dengan menghalalkan segala cara—judi, tipu daya, atau memeras kesehatan sendiri—akhirnya hanya menjadi beban di akhirat dan bahan sengketa di dunia.
Ingatlah firman Allah dalam Surah Al-Humazah:
"Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan membilang-bilangnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya." (QS. Al-Humazah: 1-3)
Jangan menjadi manusia yang mati dalam kondisi hanya "membilang-bilang" (menghitung) harta tanpa sempat merasakan damainya hidup dengan oksigen murni dan syukur yang tulus. Kembalilah berpijak ke bumi sebelum bumi memelukmu kembali. Bangunlah kekayaanmu seperti pohon beringin, dan jangan biarkan dirimu mati dalam kondisi "prematur kuadrat"—matang hartanya, namun busuk jiwa dan raganya






0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah