Rabu, 14 Januari 2026

Fenomena Qarun Kecil Tukang Flexing di Zaman Modern dan Bahayanya



Dalam catatan sejarah manusia, nama Qarun dikenal sebagai simbol puncak kesombongan atas harta bendanya. Ia adalah sosok yang merasa bahwa kekayaannya adalah hasil murni dari kecerdasannya sendiri, hingga ia lupa daratan. Dia sesungguhnya sosok yang lugu sederhana saleh dan sering menolong orang pada awalnya.

Dia pernah miskin tidak punya apa apa tapi rajin ibadah, dia kemudian berpikir kenapa saya rajin ibadah tapi masih miskin dan ahirnya ngemis doa kepada nabi musa as. supaya kaya, sering ditolak takut qarun lupa ibadah, namun terus memaksa, sehingga didoakan dia menjadi orang terkaya diwilayahnya saat itu sampai punya gudang emas yang kunci2nya saja kesusahan dipikul pembantunya yang merupakan para laki2 sangat kuat fisiknya. 


namun dia malah semakin sombong, pelit, doyan pamer /flexing dan lupa ibadah bahkan lupa dia pernah memohon supaya kaya dan setelah kaya rajin ibadah rajin sedekah kenyataan sebaliknya dia lupa diri dan lupa iman. dan akhirnya binasa diazab tuhan amblas ke perut bumi beserta seluruh kekayaannya tanpa jejak setitik jarumpun. 


Ribuan tahun berlalu, Qarun seolah lahir kembali dalam wujud yang lebih bising. Pemer kekayaan lewat media sosial dan menjerat orang orang susah supaya makin susah. Yang kaya pun ikutan miskin.

para "Qarun Kecil" di era digital yang hobi melakukan flexing (pamer kekayaan) untuk menjerat massa. Mereka lebih licik daripada qarun era lama. 

1. Anatomi Qarun Modern: Kesombongan yang Terulang

Jika Qarun masa lalu memamerkan kunci-kunci gudang hartanya yang dipikul oleh orang-orang kuat, Qarun modern memamerkan kunci mobil sport, tumpukan uang tunai, dan saldo rekening di layar smartphone jutaan orang.

Al-Qur'an menggambarkan sosok Qarun dalam Surah Al-Qasas ayat 78:

"Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku'..." (QS. Al-Qasas: 78).

Ayat ini sangat relevan dengan narasi para influencer pamer saat ini. Mereka sering berkata, "Saya sukses karena saya pintar baca peluang, saya tahu rahasianya, kalian miskin karena kalian malas dan tidak berilmu seperti saya." Mereka menafikan peran takdir dan keberkahan, serta menjadikan kecerdasan sebagai pembenaran untuk menyombongkan diri.

2. Jeratan Edukasi Palsu dan Eksploitasi Harapan

Fenomena yang kita lihat pada kasus-kasus penipuan investasi menunjukkan pola yang serupa. Mereka tidak sekadar pamer, mereka sedang menjual mimpi. Target utama mereka adalah orang-orang yang sedang kesulitan ekonomi. Dengan narasi "cepat kaya", mereka menggiring opini publik untuk meninggalkan rasionalitas.

Namun, Islam telah memperingatkan bahaya mengejar harta dengan cara yang semu dan penuh tipu daya (gharar). Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

"Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham, celakalah penyembah pakaian..." (HR. Bukhari).

Para Qarun kecil ini adalah "penyembah harta" modern yang menghalalkan segala cara, termasuk menjerumuskan orang lain ke dalam kerugian besar melalui skema investasi bodong demi komisi afiliasi.

3. Rusaknya Mentalitas Kolektif: Budaya "Giveaway" dan Panjang Angan-angan

Media sosial menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Netizen yang setiap hari disuguhi konten kemewahan akan mengalami apa yang disebut dengan relative deprivation—perasaan merasa miskin karena membandingkan diri dengan orang lain.

Hal ini memicu penyakit hati yang sangat dilarang dalam Islam, yaitu Panjang Angan-angan (Tulul Amal). Rasulullah SAW bersabda:

"Yang paling aku takutkan menimpa kalian ada dua hal: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa pada akhirat." (HR. Al-Baihaqi).

Budaya "minta giveaway" di kolom komentar adalah manifestasi dari hilangnya harga diri (muru'ah). Alih-alih bekerja keras (jihad ekonomi), masyarakat justru dididik untuk menjadi penanti keberuntungan semu dari para Qarun modern.

4. Perbandingan dengan Orang Kaya Sesungguhnya

Jika kita melihat daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes, mereka cenderung sangat tertutup (low profile). Kekayaan mereka ada dalam bentuk pabrik dan lapangan kerja. Sebaliknya, para Qarun kecil ini berisik karena mereka butuh perhatian untuk mendapatkan uang dari pengikutnya.

Islam mengajarkan bahwa kekayaan seharusnya dikelola dengan rendah hati. Allah SWT berfirman:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi..." (QS. Al-Qasas: 77).

Qarun modern justru melakukan "kerusakan" dengan cara menyebarkan edukasi yang menyesatkan dan menciptakan sistem ekonomi yang eksploitatif.

5. Akhir yang Tragis bagi Sang Pamer

Sejarah mencatat bahwa Qarun berakhir tragis, ditenggelamkan ke dalam bumi beserta seluruh hartanya. Di zaman modern, kita melihat "penenggelaman" ini dalam bentuk lain: jeruji besi, penyitaan aset oleh negara, dan sanksi sosial berupa hujatan netizen saat kedok mereka terbongkar.

Allah SWT mengingatkan:

"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya." (QS. Al-Qasas: 81).

Kesimpulan: Menjadi Netizen yang Literat

Fenomena Qarun kecil adalah ujian bagi kewarasan kita. Kekayaan sejati tidak butuh validasi dari jumlah likes, dan kesuksesan tidak pernah datang dari jalan pintas yang merugikan orang lain.

Kita perlu ingat pesan dalam hadits:

"Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup)." (HR. Bukhari & Muslim).

Sudah saatnya kita berhenti memuja mereka yang hanya bisa pamer, dan kembali menghargai proses, kerja keras, dan keberkahan dalam mencari rezeki.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah