Oleh M Alie Marzen
Dalam era digital yang serba cepat ini, masyarakat kita sedang terjangkit sebuah obsesi berbahaya: instanisme. Media sosial memborbardir kita dengan narasi kesuksesan kilat, mulai dari fenomena "Crazy Rich" palsu yang muncul dalam semalam hingga investasi spekulatif yang menjanjikan keuntungan ribuan persen dalam hitungan hari. Namun, sejarah dan hukum alam selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan kita bahwa apa yang tumbuh terlalu cepat biasanya akan tumbang dengan cara yang sama cepatnya.
Jika kita ingin memahami bagaimana membangun kemakmuran yang abadi—sesuatu yang awet, tangguh, dan menjadi legenda—kita tidak seharusnya bercermin pada kembang api yang meledak indah lalu hilang. Kita harus belajar pada Pohon Beringin.
Hukum Alam: Kekuatan dalam Kelambatan
Hukum alam adalah hakim yang paling adil. Di dalam biologi, ada kaitan erat antara durasi pertumbuhan dengan ketahanan organisme. Pohon yang tumbuh sangat cepat, seperti albasia atau sengon, cenderung memiliki kayu yang lunak dan mudah patah saat diterjang badai. Sebaliknya, pohon-pohon yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dewasa, seperti beringin (Ficus benjamina) atau jati, memiliki struktur sel yang sangat padat dan kuat.
Dunia keuangan pun mengikuti hukum alam ini. Kekayaan yang diperoleh secara instan—entah melalui perjudian, penipuan, atau spekulasi liar—sering kali tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan manajerial dari pemiliknya. Hal ini sering disebut sebagai sudden wealth syndrome. Seseorang yang mendapatkan uang dalam jumlah besar tanpa melalui proses "bertumbuh" akan kehilangan kapasitas untuk menghargai nilai uang, mengelola risiko, dan mempertahankan integritas. Tanpa akar yang kuat, struktur finansial mereka hanyalah "bangunan pasir" yang menunggu pasang datang.
Analogi Beringin: Proses Membangun Akar dan Cabang
Pohon beringin adalah mahakarya alam dalam hal proses. Ia tidak tumbuh sekadar ke atas, tetapi ia tumbuh ke segala arah dengan penuh perhitungan.
Akar yang Mengukuhkan Tanah: Sebelum beringin menjadi raksasa yang meneduhkan, ia memulai perjalanannya dengan menanam akar yang sangat dalam. Akar ini tidak terlihat, namun ia bekerja diam-diam memastikan pohon tidak akan goyah. Dalam membangun kekayaan, "akar" adalah edukasi, keterampilan, dan karakter. Tanpa proses belajar yang panjang dan kegagalan yang berulang, seseorang tidak akan memiliki dasar moral yang kuat untuk menopang beban kekayaan yang besar.
Akar Gantung sebagai Pilar Pendukung: Keunikan beringin adalah akar gantungnya. Akar ini awalnya halus, menggantung di udara, lalu perlahan menyentuh tanah dan berubah menjadi batang-batang baru yang memperkuat pohon induk. Ini adalah analogi sempurna untuk diversifikasi dan proses berkelanjutan. Kekayaan yang legendaris tidak dibangun dari satu sumber yang meledak, melainkan dari banyak usaha kecil yang ditekuni secara konsisten hingga masing-masing menjadi pilar yang mandiri.
Menyimpan Air, Bukan Menghabiskan: Beringin dikenal sebagai pohon yang mampu menyimpan debit air tanah. Ia tidak hanya menyerap untuk dirinya sendiri, tetapi ia menciptakan ekosistem di sekitarnya. Kekayaan yang diperoleh melalui proses panjang biasanya memiliki sifat "memberi manfaat". Pemiliknya tahu betapa sulitnya membangun, sehingga mereka cenderung lebih bijak dalam mengalokasikan hartanya untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Bahaya Laten Kekayaan Instan
Mengapa kekayaan instan begitu berbahaya? Selain masalah teknis manajemen keuangan, ancaman terbesarnya adalah kerusakan struktur mental.
Pertama, kekayaan instan mematikan etika kerja. Ketika seseorang merasa bisa mendapatkan banyak hal dengan usaha minimal, otot disiplinnya akan mengecil. Mereka menjadi malas untuk berinovasi dan tidak siap menghadapi masa-masis sulit. Padahal, dunia ekonomi bersifat siklis; ada masa di atas dan ada masa di bawah. Mereka yang kaya secara instan biasanya akan hancur pada siklus krisis pertama.
Kedua, adanya beban psikologis dan sosial. Sering kali, demi mengejar "viralitas" atau pengakuan instan, orang menempuh jalan yang melanggar hukum atau etika. Akibatnya, kekayaan tersebut membawa rasa cemas, ketakutan akan audit, atau sanksi sosial. Ini adalah kebalikan dari filosofi beringin yang menawarkan keteduhan. Kekayaan instan justru menawarkan "panas" yang membakar diri sendiri.
Menjadi Legenda Tanpa Perlu Viral
Ada perbedaan besar antara menjadi terkenal dan menjadi eksis. Di era sekarang, banyak orang kaya yang viral namun hanya bertahan satu atau dua tahun sebelum akhirnya menghilang atau masuk penjara. Mereka adalah kembang api.
Di sisi lain, ada para pengusaha dan keluarga yang kekayaannya bertahan hingga tujuh turunan. Mereka mungkin tidak pernah masuk dalam konten "pamer harta" di media sosial. Mereka eksis dalam kesunyian, seperti beringin di tengah hutan atau di alun-alun kota. Mereka fokus pada kualitas produk, kesejahteraan karyawan, dan menjaga nama baik keluarga.
Kekayaan yang menjadi legenda adalah kekayaan yang:
Tumbuh secara organik: Mengikuti hukum pertumbuhan yang wajar.
Tahan banting: Sudah teruji oleh berbagai krisis ekonomi.
Memiliki warisan (Legacy): Bukan hanya tentang berapa banyak uang di bank, tetapi tentang nilai-nilai apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menghormati Waktu: Rahasia Keawetan
Waktu adalah elemen yang tidak bisa disuap. Proses lama dalam membangun kekayaan sebenarnya adalah proses "pematangan". Sama seperti anggur yang butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai rasa terbaiknya, atau beringin yang butuh puluhan tahun untuk menjadi peneduh, kesuksesan finansial juga membutuhkan waktu untuk menguji kejujuran, kesabaran, dan visi kita.
Hukum alam tidak menyetujui proses instan karena alam menghargai keseimbangan. Jika ada sesuatu yang tumbuh terlalu cepat tanpa fondasi, alam akan mengirimkan "badai" untuk meratakannya kembali. Ini adalah mekanisme penyembuhan alam agar tidak terjadi ketimpangan yang merusak tatanan.
Penutup: Kembali ke Akar
Jika hari ini Anda merasa lelah karena proses membangun yang terasa lambat, ingatlah pada pohon beringin. Jangan iri pada rumput yang tumbuh hijau hanya dalam semalam setelah hujan, karena ia juga akan menguning dan mati hanya dalam beberapa hari panas.
Jadilah beringin. Fokuslah menanam akar yang dalam melalui kejujuran. Bangunlah batang-batang yang kuat melalui kerja keras yang konsisten. Jangan tergiur oleh bisikan-bisikan jalan pintas yang hanya akan merobohkan bangunan hidup Anda.
Kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa cepat Anda sampai di puncak, melainkan tentang seberapa kuat Anda berdiri di sana saat badai datang. Pada akhirnya, yang akan tetap eksis dan dikenang bukanlah mereka yang paling cepat kaya, melainkan mereka yang paling tangguh menata proses dan paling bijak memberi keteduhan bagi sesama. Karena menjadi legendaris tidak butuh suara bising, ia hanya butuh keberadaan yang kokoh dan manfaat yang tak lekang oleh waktu.







0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah