Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Al-Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Al-Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2026

Hidup Ini Keras ? Mari Tengok Planet Merkurius !!

 



Oleh: M. Ashabul Amman

(penulis freelance artikel dan filsafat islam)



​Pendahuluan: Jebakan Drama Picisan Manusia Modern


Sebelum mulai pembahasan. Marilah kita berpikir sejenak. Benarkah tuhan menciptakan hidup ini keras. Atau pemikiran kita dan keimanan kita yang terlalu lembek. Mari kita bahas panjang lebar disini. Sejatinya alam guru manusia. Karena dialah mahluk ciptaan tuhan pertama sebelum manusia diciptakan. Mari kita tengok planet luar bumi sebagai cermin kehidupan kita sehari2. Sains dan pengetahuan wajib hukumnya bagi orang berakal. Supaya jadi pelajaran dan refleksi. Bukan cuma penghias buku perpustakaan. 

​Peradaban manusia hari ini sedang mengalami krisis eksistensial yang akut, namun berada di level yang sangat dangkal. Di kafe-kafe perkotaan, di pojok-pojok media sosial, hingga di ruang-ruang obrolan santai, narasi yang paling sering bergaung adalah keluhan. "Hidup ini keras," "Takdir begitu kejam," atau "Saya sudah tidak kuat lagi menghadapi kenyataan." Ironisnya, jika kita bedah apa yang mereka sebut sebagai "kenyataan keras" tersebut, kita sering kali hanya menemukan drama picisan artifisial yang dibesar-besarkan oleh ego. Putus cinta seolah-olah menjadi akhir dari dunia. Gagal mendapatkan validasi sosial atau terjebak dalam kompetisi status materi membuat seseorang merasa hidupnya telah hancur berkeping-keping. Di titik paling ekstrem, ruang keputusasaan yang sempit ini bahkan mendorong sebagian manusia untuk mengambil keputusan fatal: mengakhiri hidup mereka sendiri. Mereka merasa dikhianati oleh semesta, seolah-olah Bumi ini adalah penjara bawah tanah yang paling menyiksa.

​Namun, benarkah Bumi ini sekejam itu? Ataukah manusia modern saja yang mentalitasnya telah mendegradasi makna "keras" menjadi sekadar riak kecil emosional?

​Untuk meruntuhkan kesombongan logika dan membersihkan karat-karat ego yang menyumbat akal sehat tersebut, kita perlu melipat sejenak buku drama kemanusiaan kita. Mari kita tarik jarak pandang kita sejauh jutaan kilometer meninggalkan atmosfer biru yang nyaman ini. Kita melompat langsung ke ring pertama tata surya, mendekati sang surya, dan menatap sebuah dunia yang memegang definisi sejati dari kata keras: Merkurius.

​Bagian I: Merkurius, Cermin Realitas Kosmis yang Tanpa Kompromi

​Merkurius adalah sebuah manifesto telanjang dari hukum fisika alam semesta yang berdiri tanpa topeng, tanpa kompromi, dan tanpa belas kasihan. Sebagai planet yang paling dekat dengan Matahari, ia tidak memiliki kemewahan untuk menyembunyikan diri dari amukan energi sang bintang induk. Jika Bumi adalah oasis yang memanjakan, maka Merkurius adalah ladang pembantaian kosmis yang absolut.

​1. Ekstremitas Suhu yang Mematikan

​Di Bumi, perubahan suhu beberapa derajat saja sudah memicu keluhan massal. Di Merkurius, perbedaan suhu antara siang dan malam adalah sebuah lompatan distopik yang tidak masuk akal bagi biologi manusia.

​Ketika wilayah permukaannya menghadap langsung ke Matahari, ia dipanggang oleh suhu ekstrem yang mencapai 430°C. Pada tingkat kepanasan seperti ini, logam seperti timbal akan meleleh dengan mudah di atas tanahnya yang gersang. Namun, begitu wilayah tersebut berputar menjauhi Matahari memasuki kegelapan malam, ketiadaan atmosfer membuat seluruh panas tersebut lolos kembali ke ruang hampa dalam sekejap. Hasilnya? Suhu permukaan langsung merosot tajam hingga membeku ekstrem di angka -180°C.

​Bayangkan sebuah dunia di mana Anda dibakar hidup-hidup di siang hari, lalu dibekukan menjadi batu es kosmis di malam hari. Tidak ada masa transisi yang lembut, tidak ada angin sepoi-sepoi yang meredakan penderitaan. Hanya ada benturan dua kutub ekstrem yang terjadi secara konstan dan berulang selama miliaran tahun.

​2. Amukan Radiasi dan Ruang Hampa yang Senyap

​Merkurius hampir tidak memiliki atmosfer. Lapisan tipis yang menyelimutinya hanyalah eksosfer rapuh yang terdiri dari atom-atom yang terlempar dari permukaannya akibat angin matahari. Ketiadaan perisai gas ini berarti Merkurius tidak memiliki pelindung sama sekali dari radiasi kosmis, sinar ultraviolet tingkat tinggi, dan badai partikel bermuatan yang dimuntahkan oleh Matahari secara brutal setiap detik.

​Di sana, tidak ada udara untuk menghantarkan suara. Semuanya berjalan dalam kesunyian yang mencekam. Meteorit-meteorit kecil menghantam permukaannya dengan kecepatan puluhan kilometer per detik tanpa ada atmosfer yang membakarnya terlebih dahulu, menciptakan kawah-kawah dalam yang menjadi saksi bisu betapa kasarnya perlakuan alam semesta terhadap planet kerdil ini.

​Bagian II: Paradoks Janin dan "Ikan Sapu-Sapu"

​Mari kita bawa data objektif Merkurius ini untuk membedah paradoks biologi dan mentalitas manusia di Bumi.

​Di Merkurius, jangankan memikirkan manusia yang bisa hidup, membangun peradaban, atau nongkrong di pos ronda; satu sel janin pun tidak akan pernah mampu tumbuh. Jika sebuah rahim buatan diletakkan di atas permukaan Merkurius tanpa perlindungan artifisial yang masif, radiasi kosmis akan mengoyak dan merusak struktur DNA-nya dalam hitungan milidetik. Setiap molekul air yang menjadi fondasi awal pembelahan sel akan langsung dilenyapkan oleh panas atau dikunci oleh beku ekstrem. Semesta di ring pertama ini secara tegas menyatakan: Tidak ada tempat bagi kelemahan biologis.

​Sekarang, mari kita tengok Bumi. Planet ini menyediakan ruang rahim yang sangat hangat, dilindungi oleh plasenta yang cerdas, didukung oleh air ketuban yang stabil, dan disuplai oleh nutrisi yang melimpah dari alam yang subur. Bumi dirancang dengan presisi yang sangat luar biasa sebagai sistem pendukung kehidupan: memiliki atmosfer tebal yang menyaring radiasi mematikan, memiliki medan magnet (magnetosfer) yang membelokkan amukan angin matahari, dan memiliki siklus air yang berputar tanpa henti secara gratis.

​Namun, apa yang dilakukan oleh makhluk yang lahir dari kemewahan fasilitas biologis ini?

​Ketika manusia berkembang biak secara masif di atas Bumi—dalam jumlah yang meledak namun sering kali tanpa diiringi oleh peningkatan kualitas kesadaran, mirip seperti populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai yang tercemar—mereka justru menciptakan neraka mereka sendiri. Manusia modern dipasok oksigen gratis oleh pohon-pohon, diberi tanah subur untuk menanam, namun mereka memilih membangun sistem sosial yang beracun. Mereka menciptakan kompetisi ego, jeratan utang, keserakahan struktural, dan kepalsuan status.

​Lalu, ketika sistem buatan ego mereka itu runtuh dan menciptakan tekanan mental, dengan penuh kelancangan mereka mengarahkan telunjuk ke langit dan berkata bahwa Tuhan itu kejam, atau memilih menyimpankan keputusasaan mereka di dalam tindakan bunuh diri. Ini adalah disonansi kognitif terbesar dalam sejarah tata surya: makhluk hidup yang berada di planet paling aman dan paling manja di seluruh galaksi, merasa dunia mereka runtuh hanya karena masalah mikro seperti diputus pacar atau kekurangan materi mewah. Mereka sekarat di tepi mata air yang murni karena menolak untuk menggunakan akal sehat mereka.

​Bagian III: Ego Manusia dan Matinya Akal Sehat

​Mengapa manusia bisa begitu buta terhadap kemewahan Bumi dan begitu mudah mendramatisasi "kekerasan" hidup? Jawabannya terletak pada satu entitas yang menguasai sistem operasi mental mereka: Ego.

​Dalam literatur psikologi modern, kita menyebutnya ego—dorongan yang berpusat hanya pada kenyamanan subjek, kepuasan instan, dan penolakan untuk merasa kecil. Sementara dalam naskah-naskah kuno ajaran Samawi, entitas yang sama ini dikenal dengan nama Hawa Nafsu. Keduanya adalah makhluk yang sama. Hawa nafsu atau ego bertindak seperti dinding beton yang menyempitkan ruang berpikir manusia hingga menciptakan tunnel vision yang akut.

​Ketika ego menguasai manusia secara sempurna, mata hati dan pikiran mereka akan tertutup rapat. Mereka kehilangan kemampuan untuk melihat lanskap realitas secara makro. Mereka tidak lagi mampu membandingkan posisi mereka dengan skala kosmis. Akibatnya, akal sehat mereka mati.

​Matinya akal sehat akibat ego ini bermanifestasi dalam dua pola utama di masyarakat:

​1. Mekanisme Pertahanan Diri yang Primitif: Menertawakan Fakta Besar

​Ketika manusia-manusia penyembah ego disodorkan pada fakta-fakta besar alam semesta—seperti kedahsyatan suhu Merkurius atau megahnya struktur galaksi—ego mereka secara otomatis merasa terancam. Ego menolak fakta bahwa manusia sebenarnya hanyalah debu mikroskopis yang tidak signifikan di tengah dinginnya semesta.

​Untuk melindungi kerapuhan mental tersebut, otak mereka mengambil jalan pintas yang primitif: meremehkan dan menertawakannya. "Alah, itu cuma dongeng NASA," atau "Kibulan sains untuk menakut-nakuti saja." Tertawa dan menganggap sains sebagai konspirasi adalah benteng bagi mereka agar mereka bisa tetap merasa pintar, merasa memegang kendali, dan tetap nyaman di dalam tempurung berpikir mereka yang sempit. Mereka menolak dikerdilkan oleh kebenaran, sehingga memilih hidup dalam kebodohan yang bising.

​2. Ilusi Kegagahan dan "Gaduh Malam"

​Penyempitan akal sehat ini juga merembes ke dalam perilaku fungsional sehari-hari. Ambil contoh sederhana tentang fenomena orang-orang yang mabuk minuman keras dengan dalih agar "kuat jaga malam" atau agar terlihat "gagah."

​Secara logika dan biologi, alkohol adalah zat depresan yang merusak sistem saraf pusat. Di dunia nyata, manusia yang tidak mabuk justru memiliki ketahanan murni; mereka betah terjaga hingga pagi hari, tetap segar beraktivitas dan bekerja di siang hari karena memiliki stabilitas energi yang dikontrol oleh akal jernih. Sementara mereka yang mabuk, kenyataannya baru jam 2 pagi sudah tumbang (tepar) dengan kesadaran yang rusak, berbicara ngalor-ngidul tidak keruan.

​Dimana letak kegagahannya? Tidak ada. Yang ada, mereka yang harusnya menjalankan fungsi menjaga keamanan lingkungan di malam hari, justru berubah fungsi menjadi sumber "gaduh malam." Mereka berteriak, tertawa keras tanpa peduli waktu, merusak ketenangan (serenity) warga sekitar, dan memicu konflik. Bensin energi yang harusnya menjalankan motor kehidupan, justru mereka siramkan ke bodi motor untuk membakar diri mereka sendiri akibat kebodohan menuruti ego.

​Bagian IV: "Membaca Buku Tuhan" Langsung dari Alam Semesta

​Bagi mereka yang memilih untuk menjaga kesadarannya tetap berada di frekuensi yang tinggi, melihat penyelewengan akal sehat massal ini tentu menimbulkan keheranan yang mendalam. Namun, mendebat gerombolan penyembah ego adalah sebuah kesia-siaan energi yang luar biasa.

​Inilah mengapa metode yang paling taktis dan dingin dalam memahami kehidupan adalah dengan "membaca buku Tuhan" langsung dari lembar-lembar alam semesta, tanpa perlu terjebak pada kulit luar dogma atau rentetan dalil suci yang sering kali diremehkan oleh orang-orang yang hatinya sudah berkarat.

​Menyodorkan untaian ayat suci yang indah kepada manusia yang pikirannya sudah tersumbat oleh keserakahan materi atau drama picisan seperti menuangkan air murni ke atas batu yang berminyak; ia tidak akan meresap, hanya lewat dan terbuang sia-sia. Mereka akan mendebatnya, memanipulasinya, atau mengaransemennya demi keuntungan ego mereka sendiri—persis seperti yang dilakukan oleh kaum-kaum cerdas yang sesat di masa lalu yang berani merombak-rombak teks suci layaknya memodifikasi aplikasi atau game demi memuaskan kenyamanan politik dan rasial mereka.

​Sebaliknya, cermin kosmis seperti Merkurius tidak bisa didebat dengan argumen moral atau manipulasi kata-kata. Ia adalah fakta fisik yang telanjang:

  • ​Jika manusia mengeluh bahwa takdir hidup di Bumi ini keras, sodorkan angka 430^\circ\text{C} siang hari di Merkurius.
  • ​Jika manusia merasa berhak egois dan merusak, tunjukkan betapa instannya ruang hampa udara di sana akan melenyapkan eksistensi mereka jika Bumi tidak lagi sudi melindungi mereka.

​Melalui tamparan fakta kosmis inilah, logika manusia dipaksa untuk berhadapan langsung dengan aturan main alam semesta yang sesungguhnya. Mereka dibawa untuk menyadari bahwa takdir yang mereka jalani di Bumi saat ini sebenarnya adalah sebuah kemewahan tingkat tinggi yang gratis, dan keluhan mereka selama ini hanyalah produk dari mentalitas yang manja.

​Bagian V: Tingkat Ancaman: Orang Bodoh vs. Orang Pintar yang Jahat

​Membahas matinya akal sehat akibat ego membawa kita pada sebuah kesimpulan sosiologis yang sangat krusial tentang tingkat bahaya destruktif manusia. Peradaban kita sering kali terlalu fokus mengantisipasi kegaduhan yang dibuat oleh orang-orang bodoh, padahal ada ancaman laten yang jauh lebih mengerikan di balik meja-meja sepi.

​Ada sebuah sari pati nasihat lama yang mengatakan bahwa orang bodoh yang jahat tidak lebih berbahaya daripada orang pintar yang jahat dalam posisi "tidur". Tafsir dari kalimat ini sangat dingin dan membongkar mekanisme akumulasi energi.

​Ketika orang bodoh yang jahat menuruti egonya (seperti para pelaku kriminal jalanan atau gerombolan yang membuat gaduh malam), daya rusak mereka sangat terlokalisir. Mereka bising, instan, dan sangat mudah diringkus oleh hukum fisik karena kapasitas berpikir mereka pendek.

​Namun, ketika orang pintar yang jahat berada dalam posisi "sedang tidur" atau diam, dunia luar mungkin merasa aman karena tidak ada kegaduhan di permukaan. Padahal, itu adalah ilusi yang menipu. Fase "tidur" atau diamnya orang pintar yang jahat adalah masa akumulasi energi potensial yang maksimal. Otak mereka yang cerdas namun dikuasai ego sempurna sedang melakukan pengisian daya (recharging).

​Begitu fajar tiba dan mereka bangun dengan energi penuh serta pikiran yang tajam, seluruh daya tersebut langsung dilepaskan menjadi energi kinetik perusak berskala makro. Tanpa perlu berteriak di jalanan, mereka duduk di balik meja kerja ber-AC untuk merancang "ayat-ayat sesat" baru:

  • ​Mereka memodifikasi sistem hukum dan undang-undang demi melegalkan perampokan hak publik.
  • ​Mereka menyuntikkan algoritma manipulatif ke dalam aplikasi yang merusak mental generasi muda.
  • ​Mereka menciptakan inflasi dan krisis ekonomi sistemik yang bisa memiskinkan jutaan orang sekaligus hanya dengan beberapa baris kode atau goresan pena.

​Mereka adalah arsitek distopia yang sesungguhnya. Mereka beristirahat bukan untuk memulihkan kebaikan, melainkan untuk memperbarui pasokan bensin agar bisa membakar motor peradaban secara lebih efisien, terstruktur, dan masif keesokan harinya.

​Kesimpulan: Kembali ke Titik Nol Kesadaran

​Pada akhirnya, perjalanan pengamatan kita dari gersangnya permukaan Merkurius hingga ke balik meja kerja para perusak peradaban modern membawa kita kembali ke satu titik kesadaran yang mutlak: Bumi ini tidak pernah keras; yang keras dan merusak adalah ego manusia yang tidak terkendali.

​Manusia di era modern ini terlalu sibuk memanjakan hawa nafsu mereka, memberi makan ego yang tidak pernah kenyang, hingga mengorbankan akal sehat yang merupakan perangkat paling mulia yang mereka miliki. Mereka seperti anak manja yang menangis histeris di dalam istana mewah hanya karena salah satu mainannya bergeser beberapa sentimeter, sementara di luar dinding istana, alam semesta yang dingin dan hampa siap melumat siapa saja yang kehilangan perlindungan.

​Menjadikan Merkurius sebagai cermin realitas adalah cara terbaik untuk melucuti segala bentuk dramatisasi cengeng kehidupan kita. Di hadapan skala kosmis, seluruh masalah mikro kita—mulai dari urusan patah hati, kegagalan status, hingga bisingnya opini orang lain—langsung luruh menjadi debu yang tidak berarti.

​Kita tidak membutuhkan ribuan dalil yang didebat jika kita mau membuka mata untuk melihat bagaimana semesta ini bekerja. Hidup ini adalah sebuah hak istimewa yang sangat langka dan mewah di tengah dinginnya ruang hampa tata surya. Maka, berhentilah mengeluhkan takdir. Bersihkan karat-karat ego di dalam hati, kendalikan bensin energi di dalam diri secara presisi menggunakan kemudi akal sehat, dan mulailah merawat serenity (kedamaian) hidup di atas Bumi yang super ramah ini sebelum waktu kita habis dan kita kembali menjadi bagian dari keabadian spiral kosmis yang sunyi.

Kamis, 15 Januari 2026

Ketika Era Gadget Mempercepat Kedewasaan (pubertas) dan Mematikan Nalar


Saya tulis artikel ini karena saya menyaksikan langsung era dimana manusia malah makin menurun akal dan moralnya akibat dijaman serba cepat dan instan. yang mana malah memperlemah dan mempersingkat kehidupan manusia itu sendiri.

Ketika Algoritma Mempercepat Kedewasaan (pubertas) dan Mematikan Nalar

Dahulu, kedewasaan adalah sebuah proses pendakian yang lambat, penuh rintangan, dan membutuhkan ketabahan. Namun hari ini, kita hidup di era "Prematur Kuadrat". Dunia tidak hanya berjalan cepat; ia sedang berlari menuju jurang kedangkalan. Fenomena yang dahulu dibahas sebagai "kerusakan zaman" kini telah bermutasi menjadi monster digital yang merasuki syaraf-syaraf manusia melalui layar gadget, algoritma TikTok, dan mimpi-mimpi instan yang mematikan.

1. Biologi yang Dipaksa: Pubertas di Ujung Jari

Secara medis, kita melihat tren yang mengkhawatirkan: usia pubertas anak-anak semakin maju. Jika dahulu anak perempuan mengalami menarche (haid pertama) di usia 12–14 tahun, kini banyak yang mengalaminya di usia 9 atau 10 tahun. Mengapa?

Selain faktor nutrisi dan makanan cepat saji (fast food) yang sarat hormon, faktor stimulasi visual memegang peran kunci. Gadget adalah mesin perangsang dopamin dan hormon seksual yang bekerja nonstop. Paparan konten dewasa, tarian erotis yang dibalut "tren" di media sosial, hingga interaksi tanpa batas di ruang siber, memaksa otak melepaskan hormon sebelum waktunya.

Hasilnya? Kita mendapati anak-anak dengan fisik dewasa namun dengan mentalitas yang rapuh. Mereka memiliki hasrat biologis orang dewasa, tetapi kapasitas kontrol diri seorang balita. Inilah awal mula bencana moral: ketika tubuh sudah "matang" namun akal belum "sampai".

2. Tirani Algoritma dan Matinya Proses

TikTok dan platform video pendek lainnya telah mengubah cara kerja otak manusia. Kita terjebak dalam durasi 15 detik yang menawarkan kepuasan instan. Otak kita diprogram untuk tidak lagi sabar menunggu. Sesuatu yang lambat dianggap membosankan, sesuatu yang butuh proses dianggap kuno.

Pola pikir "serba instan" ini merusak tatanan kehidupan. Jika untuk terhibur saja kita hanya butuh usapan jari (scroll), maka untuk hal-hal besar dalam hidup pun kita menuntut kecepatan yang sama. Manusia modern tidak lagi ingin menanam; mereka ingin langsung memanen. Inilah yang menyebabkan lahirnya generasi yang "cepat matang, cepat pula mati"—mati kreativitasnya, mati daya juangnya, dan mati nuraninya.

3. Ekonomi Halusinasi: Dari Investasi Bodong hingga Judi Online

Penyakit instan ini mencapai puncaknya pada sektor ekonomi. Fenomena "Prematur Kuadrat" membuat orang ingin kaya sebelum bekerja, dan ingin mapan sebelum berkeringat.

  • Investasi Bodong: Mengapa jutaan orang tertipu robot trading atau skema Ponzi? Karena janji keuntungan besar dalam semalam lebih menarik daripada menabung bertahun-tahun.

  • Judi Online (Judol): Inilah candu paling mengerikan di era ini. Rakyat kecil hingga kalangan terpelajar terjebak dalam harapan palsu di balik layar ponsel. Mereka tidak sadar bahwa algoritma sudah dirancang untuk membuat mereka kalah, namun sifat "ingin instan" menutup akal sehat.

Dunia seolah menawarkan jalan pintas di dalam jalan pintas. Orang ingin kaya lewat investasi, di dalam investasi itu mereka mencari cara yang lebih cepat lagi melalui spekulasi buta. Hasilnya bukan kesejahteraan, melainkan depresi, utang pinjol yang mencekik, hingga bunuh diri.

4. Normalisasi Perzinaan di Era "Selfie"

Jika artikel asli menyoroti aborsi, maka hari ini kondisinya jauh lebih kompleks. Perzinaan tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di sudut gelap, melainkan dipamerkan melalui "soft-porn" di media sosial atas nama kebebasan berekspresi.

Budaya pacaran telah berevolusi menjadi gaya hidup "f*ck buddy" atau "situationship" yang tanpa komitmen. Ketika teknologi mempermudah pertemuan (dating apps), nilai kesakralan tubuh manusia merosot menjadi sekadar komoditas. Akibatnya, angka aborsi tidak hanya tinggi, tetapi seringkali dianggap sebagai "solusi medis" biasa ketimbang sebuah tragedi kemanusiaan dan dosa besar.

5. Krisis Akhlak: Sekolah Tanpa Jiwa

Pendidikan formal saat ini seringkali hanya menjadi pabrik ijazah. Anak-anak pandai menggunakan teknologi, mahir mengedit video, namun gagap dalam tata krama (adab). Kita melihat fenomena di mana siswa berani melawan guru, anak menghujat orang tua di kolom komentar, dan perundungan (bullying) yang dilakukan secara digital tanpa rasa bersalah.

Pendidikan kehilangan "ruh" karena terlalu fokus pada angka dan kompetensi teknis, sementara pembangunan karakter dianggap sebagai beban kurikulum semata. Kita mencetak tenaga kerja, bukan manusia beradab.

6. Penutup: Kembali ke Akar di Tengah Arus

Dunia yang kita huni sekarang adalah dunia yang prematur. Kita dipaksa tumbuh lebih cepat dari kapasitas jiwa kita untuk menampungnya. Untuk melawan "Kerusakan Zaman" di era digital ini, tidak ada jalan lain selain menarik rem darurat.

  • Digital Detox: Membatasi paparan layar untuk mengembalikan fungsi kognitif dan kestabilan hormon.

  • Literasi Spiritual: Menanamkan kembali nilai agama bukan sebagai ritual semata, melainkan sebagai benteng logika agar tidak mudah tertipu janji instan duniawi.

  • Menghargai Proses: Menyadari bahwa sesuatu yang berharga selalu membutuhkan waktu, keringat, dan kesabaran.

Kita harus berani menjadi "lambat" di dunia yang terlalu cepat. Karena pohon yang dipaksa berbuah dengan zat kimia (karbitan) mungkin akan cepat panen, tetapi rasanya hambar dan pohonnya akan cepat mati. Begitu pulalah manusia. Jangan sampai kita menjadi generasi yang matang sebelum waktunya, hanya untuk membusuk sebelum sempat memberi manfaat.

Kamis, 24 Agustus 2023

Pemimpin Tanpa Ilmu Agama Hanya Akan Membuahkan Kesengsaraan Umat



Memasuki musim pemilu orang yang berkedudukan dan berharta rame rame kampanye untuk mendapatkan suara. Supaya mereka mendapatkan kedudukan dihadapan rakyat tentu dengan iming2 gaji yang besar dari negara mereka melakukan itu, bukan karena niat ingin membangun negeri. Padahal pemimpin ataupun wakil rakyat itu kelak berat tanggung jawabnya diakhirat.

Adam ‘alaihis salam yang merupakan  yang pertama sebagai orang yang dilebihkan dari malaikat karena ilmunya, sehingga dia berhak menjadi khalifah.

Sekalipun ahli tafsir berbeda pendapat tentang pengertian kata khalifah yang terdapat pada awal surat Al-Baqarah, tetapi semuanya sepakat adanya pengertian sulthan (kekuasaan) pada kata tersebut. Pengertian inilah yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyah dalam kalimatnya: “Tentang khilafah dan Sulthan, dan fungsinya sebagai naungan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) di muka bumi.

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman (yang artinya):
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman (yang artinya) kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi.”(Qs. Al-Baqarah:30)

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) juga berfirman (yang artinya):
“Wahai Daud, sesungguhnya kami jadikan engkau sebagai seorang khalifah di muka bumi; oleh karena itu lakukanlah hukum yang benar diantara manusia, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu supaya kamu tidak tersesat dari jalan Allah (Subhanahu wa Ta’ala).” (Qs. Shad:26)

Ayat diatas menjelaskan manusia hakikatnya khalifah atau pemimpin dan pengelola bumi dan sumber dayanya. Jika manusia memimpin dengan hawa nafsu maka akan berubah menjadi kerusakan dan kesesatan yang dipimpin. 

Tentang firman-Nya (yang artinya) “Sesungguhnya Kuciptakan khalifah di muka bumi, kata “khalifah” di sini tidak hanya menyangkut Adam, tetapi juga mencakup seluruh anak keturunannya. Akan tetapi, istilah khalifah di sini secara langsung menyangkut Adam, sama halnya dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tiin:4)

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini menetapkan prinsip bahwa imam dan khalifah itu mempunyai hak didengar dan ditaati.1)

Pendapat saya, bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memilih Adam menjadi khalifah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) di muka bumi, bukan memilih malaikat, dikarenakan Adam tidak sekedar memiliki pengetahuan tentang hal tertentu, tetapi benar-benar menguasai semua yang Allah (Subhanahu wa Ta’ala) ungkapkan dengan kata-kata-Nya sendiri dalam firman-Nya (yang artinya):

“Dan Dia telah mengajarkan semua nama kepada Adam.” ( Qs. Al-Baqarah: 31)

Dalam ayat ini digunakan kata-kata semua nama, bukan sekedar nama-nama. Sejalan dengan ayat ini adalah firman-Nya:

“Dan Kami telah memberikan ilmu pengetahuan kepada Daud dan Sulaiman dan mereka berkata:’Segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.’ Dan Sulaiman mewarisi Daud, serta ia berkata: ‘Wahai manusia, kami diajari bahasa burung, dan kami diberi segala macam hal. Sesungguhnya ini adalah karunia yang utama .” (Qs. An- Naml: 15)

Kata ilmu pengetahuan dalam ayat ini, oleh Ibnu Badhis dikatakan sebagai suatu jenis ilmu yang agung lagi istimewa, yaitu ilmu yang dapat memadukan antara kekuasaan dan kenabian serta dapat menegakkan hukum dan hidayah.

Ayat di atas lebih dulu menyebut ilmu sebelum menyebut kekuasaan, dan lebih dulu menyebut ilmu sebagai nikmat sebelum nikmat-nikmat lainnya. Maksudnya adalah untuk menekankan pentingnya posisi ilmu serta menunjukkan bahwa ilmu adalah pangkal tolak untuk membangun kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ilmulah yang merupakan prinsip segala urusan agama maupun dunia, sedangkan kekuasaan hanya merupakan bangunan yang berdiri di atasnya. Jadi, kekuasaan hanya boleh ditata dan dibangun serta diatur berdasarkan ilmu. Apapun yang dibangun di luar landasan ilmu akan meluncur ke dalam kehancuran. Ilmu menjadi pagar kekuasaan, senjata yang sebenarnya, dan penompangnya. Bilamana suatu kekuasaan tidak dilindungi oleh ilmu, dia akan menghadapi kemerosotan dan kehancuran.

Sejalan dengan uraian di atas adalah firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala):
“Meraka bertanya kepadamu tentang Dzulqurnain, katakanlah: ‘Akan kami bacakan kepada cerita tentang dirinya sebagai peringatan.’ Sungguh Kami telah menjadikan dia berkuasa di muka bumi, dan Kami karuniakan kepadanya jalan tentang semuanya.” (Qs. Al-Kahfi: 83-84)

Yang dimaksud dengan jalan pada ayat di atas, menurut Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Suddi, dan lain-lain, adalah ilmu. Jadi maksudnya adalah: “Kami karuniakan kepadanya ilmu tentang segala sesuatu.” Dengan begitu, ilmunya mencakup cabang berbagai masalah.

Tentang ilmu yang dikaruniakan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) kepada para politisi, Abu Hazm meriwayatkan, ujarnya:”Saya tinggal bersama Abu Hurairah selama lima tahun. Saya mendengar dia pernah menceritakan hadits berikut:
Dari Nabi (Shalallahu ‘alaihi wassalam), sabdanya:”Bani isra’il dahulu dipimpin oleh para nabinya. Setiap seorang nabi wafat, diganti nabi yang lain. Namun sesungguhnya, tidak ada lagi nabi sesudahku.”(HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini dibenarkan oleh firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala):
“Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya yang digunakan oleh para nabi yang memimpin kaum Yahudi, para rabbani, dan para pendeta, untuk menetapkan hukum.” (Qs. Al- Ma’idah: 44)

Jadi, kepemimpinan itu adalah hak para nabi, karena mereka itulah yang paling berhak dan menjadi ahlinya. Bila seorang nabi meninggal, digantikanlah oleh pewarisnya. Dalam hal ini disebutkan bahwa:

Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam) bersabda : ”Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

Jadi, mereka yang masih menjadi pelajar tidak mempunyai hak untuk memikul warisan ini. Mereka sama sekali tidak memiliki bagian, baik sebagai ashabah (ahli waris jauh kalau ada sisa waris, pen.) maupun dzawil furudl (ahli waris yang langsung berhak dan bagiannya tetap, pen.). 

Oleh karena itulah, Al-Qur’an secara cermat menggunakan kata “yaqin” untuk menerangkan sifat orang yang berhak memegang imamah seperti dalam firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala):

“Dan kami telah menjadikan diantara mereka imam-imam yang memberikan petunjuk kepada manusia dengan perintah kami, karena mereka bersabar dan yakin terhadap ayat-ayat kami.” (Qs. As- Sajdah: 24)

Kata “yaqin” di sini digunakan sebagai ganti kata “ilmu”, sebab antara ilmu dan yaqin jauh berbeda. Yaqin sudah masuk ke dalam praktek, sedangkan ilmu baru bersifat teori, dan yaqin kedudukannya pada tingkat imamah dan kepemimpinan. Ibnul Qayyim berkata: “Imamatud Dien (kepemimpinan agama) hanya bisa diraih dengan kesabaran dan keyakinan.”3)

Maka, alangkah hebatnya rahasia Al-Qur’an ini. Oleh sebab itulah, Ibnu Taimiyah menyatakan:”Rasulullah dan para khalifahnya memimpin manusia dalam bidang agama atau dunia mereka, kemudian muncul pemisahan kepemimpinan. Para jenderal mengatur dan mengurus kepentingan manusia dalam bidang keduniaan dan keagamaan secara seremonial, sedangkan para ulama memimpin manusia dalam bidang ilmu dan agama.”

Sedangkan pemimpin yang bodoh tidak mengerti agama sama sekali dipastikan umatnya atau rakyatnya banyak yang lebih bodoh pula tersesat dalam kemaksiatan, kemiskinan dan penderitaan turun temurun. Mereka hanya mengerti segalanya diatur oleh uang. Uang banyak menang dan uang sedikit kalah meski benar. Hukum seperti ini sudah umum di masyarakat. Uang adalah penentu hukum. Karena hukum negri ini didasarkan pada Undang Undang Duit. Segalanya diatur oleh duit. maka terlihatlah kerusakan moral dan ketidak adilan dimana mana. yang kaya bebas menindas yang miskin. yang kuat memperbudak yang lemah dsb. Itu karena Pemimpin kita hari ini merupakan kaum2 yang bodoh akan agama sehingga merusak tatanan masyarakat. Pilihlah pemimpin yang minimal tahu sedikit tentang agama, jujur dan bertanggung jawab. Bukan hanya ingin memperkaya diri setelah memperoleh jabatan. Menebar janji janji palsu omong kosong belaka. setelah menjadi pemimpin lupa akan janjinya.


Ada pepatah 

"Janganlah memimpin orang lain sebelum kamu berhasil memimpin dirimu sendiri"

Ketika manusia sudah bisa mendisiplinkan dan memperbaiki perilaku diri sendiri dia otomatis juga bisa mendisiplinkan dan memperbaiki perilaku yang dia pimpin. sebaliknya pemimpin yang bodoh acak kadut maka pengikutnya dipastikan lebih amburadul.

Selasa, 28 September 2021

Tentang Teologi “Blusukan” Jokowi


Oleh : Andian Husaini

Aloysius  menulis bahwa  ribuan tahun silam – sebelum Jokowi -- Jesus memang punya hobi blusukan. Kehadiran-Nya di dunia sebagai “Sang Sabda yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yohanes 1:14) sudah merupakan blusukan perdana. Blusukan itulah yang disebut penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia. Itulah teologi inkarnasi.

Masih menurut Aloysius, dalam perspektif iman Kristiani, Jesus disebut “Putra Allah yang Mahatinggi”, yang sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dalam kesatuan kasih mesra. Namun karena begitu besar kasih Allah terhadap dunia, Allah berkenan mengutus Putra yang tunggal ke dunia agar setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (bandingkan Yohanes 3:16). Percaya kepada-Nya tentu saja tidak boleh dipahami saklek harus menjadi Kristiani dan dibaptis formal. 

“Karl Rahner berterminologi yang disebut baptis batin, yakni semua orang yang menerima keberadaan-Nya dan percaya Dialah Sang Juruselamat, mewujudkan sikap itu dalam setiap tindakan baik, benar, dan suci. Konsili Vatikan II, melalui dokumen Lumen Gentium (LG) dan Nostra Aetate (NA) menegaskan, Katolik tidak menolak apa pun yang serba benar, baik, dan suci, yang ada dalam setiap agama dan kebudayaan sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Jesus Kristus (bandingkan LG 16 dan NA 2),” tulis Aloysius.

Begitulah opini yang dikembangkan Aloysius. 

Menarik membaca tulisan Aloysius itu, bahwa pengertian percaya kepada Yesus sebagai Putra yang tunggal itu tidak harus menjadi Kristiani dan dibaptis secara formal. Ia mengenalkan istilah “baptis batin” yang katanya disebutkan oleh teolog Jerman Karl Rahner.  Tidak jelas benar apa yang dimaksudkan oleh Aloysius dengan “babtis batin”.  Sebab, Karl Rahner sendiri dikenal dengan gagasannya tentang “anonymous Christianity” (Kristen tanpa nama). Bahwa, orang-orang yang belum mengenal Jesus dapat dikategorikan sebagai “Kristen” tapi  “tanpa nama”, meskipun mereka sudah memeluk agama tertentu. Hanya saja, Rahner berpendapat, bahwa agama orang-orang itu tidak sah lagi jika misi Kristen sudah sampai pada mereka dan Bibel diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. 

“Once a religion really confronts the gospel – once the gospel is translated into the new culture and embodied in community – than that religion loses its validity,”  tulis Karl Rahner seperti dikutip Paul F. Knitter dalam bukunya, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion (London: SCM Press Ltd., 1985). 

Jadi, dalam perspektif  teologi inklusif model Karl Rahner, setelah agama Kristen disebarkan ke Indonesia, maka agama-agama selain Kristen sudah tidak sah lagi. 

Dalam artikelnya, Aloysius juga menyebut, bahwa tokoh Hindu Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya. Ditulis oleh Aloysius: “Jesus Kristus itu unik sekaligus universal. Tak heran tokoh Hindu dan pemimpin India bernama Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya, terutama dengan ajaran ahimsa, mengasihi musuh. Tokoh politis India tersebut sangat menghayati sabda bahagia yang menjadi bagian dari khotbah di bukit yang disampaikan Jesus dan dicatat dalam Injil.”

Benarkah Mahatma Gandhi bersikap simpatik terhadap Jesus seperti yang ditulis Aloysius itu?   Tahun 2012, penerbit Media Hindu, menerbitkan buku berjudul “Dialog Gandhi dengan Missionaris tentang Kristen dan Konversi”. Buku ini aslinya berjudul “Gandhi on Christianity” (Maryknoll New York: Orbis Books, 1991). Buku ini memaparkan sikap kritis Gandhi terhadap kepercayaan kaum Kristen pada Jesus: 

“Saya menganggap Yesus sebagai seorang guru besar kemanusiaan, tapi saya tidak menganggap dia sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan Tuhan. Julukan itu dalam penafsiran materialnya tidak dapat diterima. Secara kiasan kita semua adalah anak-anak yang dilahirkan Tuhan, tapi untuk masing-masing kita mungkin ada anak-anak lain yang dilahirkan Tuhan dalam pengertian khusus... Saya percaya dengan kesempurnaan  untuk menjadi sempurna dari hakikat manusia. Yesus telah menjadi sedekat mungkin pada kesempurnaan itu. Mengatakan bahwa dia sempurna sama dengan menolak superioritas Tuhan atas manusia... Saya juga tidak memerlukan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban untuk mengakui kebenaran Yesus sebagai seorang guru. Tidak ada yang lebih ajaib dari tiga tahun kependetaannya, “Tidak ada keajaiban dalam sejarah manusia yang dihidupi dengan segenggam roti. Seorang tukang sulap dapat membuat ilusi (tipuan pandang) semacam itu. Tapi terkutuklah hari ketika seorang pesulap dihormati sebagai penyelamat kemanusiaan.” (hal. 124-125). 

Tentang keselamatan universal – baik bagi yang percaya atau yang tidak percaya kepada Ketuhanan Jesus --  Aloysius menulis: “Blusukan-Nya mendatangkan keselamatan universal bagi semua orang, yang mengimani Dia, maupun yang tidak mengimani-Nya, bahkan yang memusuhi-Nya. Itu karena Ia pun berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya agar diampuni Allah, yang disebut-Nya Bapa, sebab mereka tidak tahu yang mereka perbuat (Lukas 23:34 dan paralelnya).”

Membaca tulisan Aloysius  tersebut, kita dapat bertanya, benarkah orang yang tidak mengimani Yesus juga mendapatkan keselamatan, sebagaimana digambarkan oleh Pastor Aloysius? Masalah keselamatan universal ini telah menyita perdebatan panjang dalam internal Kristen. Benarkah ada keselamatan di luar gereja Katolik? Jika memang ada, untuk apa Gereja Katolik memerintahkan kaum Katolik untuk menjalankan misinya agar percaya kepada Yesus. 

Dalam artikelnya, Aloysius mengenalkan diri sebagai “rohaniwan”,  budayawan interreligius, dan Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah. Sebagai rohaniwan Katolik, Aloysius tetunya sangat paham tentang perdebatan seputar wacana “keselamatan di luar gereja Katolik”.   Sebelumnya, Gereja berpegang pada doktrin “extra ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan).  Kemudian, Konsili Vatikan II (1962-1965), menetapkan satu dokumen Nostra Aetate yang bersifat cukup simpatik terhadap agama lain, termasuk Islam. Tetapi, sejumlah dokumen Konsili Vatikan II juga mempertahankan sikap eksklusifitasnya dalam soal keselamatan. 

Dekrit ‘ad gentes’ mewajibkan aktivitas misi Katolik ke seluruh umat manusia: “Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church's preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body… And hence missionary activity today as always retains its power and necessity.”(Karena itu, haruslah semua orang dikonversikan kepada Dia, Yang dikenal lewat misi Gereja; semua manusia harus menjadi anggota Dia dan Anggota Gereja dengan pembaptisan, yang adalah Tubuhnya... Oleh sebab itu, aktivitas misi Kristen dewasa ini senantiasa tetap mempunyai kekuatannya dan tetap dibutuhkan).

Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang disampaikan 8 Desember 1975, yang menyebutkan: “Pewartaan pertama juga ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” yang benar... Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang  tadi berhak mengetahui kekayaan misteri Kristus.”

Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sesudahnya.” 

Menyimak sejumlah dokumen Gereja Katolik tentang kewajiban menjalankan misi Kristen untuk membaptis seluruh manusia, maka patut ditanyakan, apakah dukungan kaum Kristen kepada Jokowi merupakan bagian dari aktivitas misi tersebut?   Bisanya, agak berbeda dengan kaum Kristen evangelis yang menyampaikan misi dengan “vulgar”,  Geraja Katolik menjalankan misinya dengan halus melalui program akulturasi atau kemanusiaan. 

Jadi, apa sebenarnya misi kaum Kristen yang secara menggebu-gebu mendorong Jokowi sebagai calon Presiden RI? Wallahu a’lam.  


Jokowi akan dikorbankan? 

Aloysius menulis:  “Jesus menjadi tokoh ideal yang berpraksis bela rasa dan solider kepada korban, bukan kepada penguasa dan pemilik modal. Itulah buah teologi blusukan dan praksis dari pastoral blusukan Jesus. Akibatnya, Jesus dijatuhi hukuman mati, bahkan dianggap pemberontak. Tanda-tanda mukjizat dan buah-buah pastoral blusukan-Nya tidak dianggap. Dia justru dituduh menggunakan ilmu sihir dan menyesatkan rakyat. Begitulah, para pemuka agama dan politikus busuk yang memusuhi-Nya kemudian bersekongkol dengan prokurator Romawi bernama Pontius Pilatus. Jesus dijatuhi hukuman mati.”  

Bagi kaum Kristen, babak terpenting dari episode kehidupan Jesus adalah penyaliban  dan kebangkitan Jesus. Itulah inti agama Kristen (Christianity). Tidak ada agama Kristen tanpa adanya konsep penyaliban dan kebangkitan (crucifixion and resurrection) Jesus.  Maka, kita patut bertanya, jika Jokowi disamakan dengan Jesus dalam perspektif  Kristen, apakah pada akhirnya Jokowi juga akan “disalib” dan “dikorbankan” demi “menebus dosa kaum tertentu”? 

Kaum Katolik Indonesia mengaku memiliki “syahadat” versi Katolik yang bunyinya: “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…” (Lihat buku, Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, hal. 36-37)

 

Jokowi adalah muslim. Bahkan, sudah menunaikan ibada haji. Sebagai Muslim, ia sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.” Jokowi pasti yakin, Allah tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Ia juga yakin akan kebenaran al-Quran, yang  menjelaskan bahwa Jesus (Isa a.s.) adalah manusia, seorang Nabi. Jesus bukan Tuhan atau anak Tuhan. Bahkan al-Quran dengan tegas menyatakan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan, bahwa Allah itu sama dengan Isa Ibnu Maryam. Padahal, al-Masih Isa Ibnu Maryam berkata, wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya siapa yang menserikatkan Allah maka Allah akan mengharamkan sorga baginya, dan tempatnya di neraka. Dan orang-orang zalim itu tidak akan mendapatkan pertolongan.” (QS 5:72). 

Juga, disebutkan dalam al-Quran, sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari yang tiga (QS 5:73). Allah juga murka karena dituduh punya anak. Orang yang menuduh Allah punya anak, sungguh telah melakukan kejahatan besar di mata Allah (QS 19:88-91). Al-Quran pun membantah bahwa Nabi Isa a.s. telah mati di tiang salib. Tidak ada bukti yang meyakinkan tentang itu. (QS 4:157, QS 18:4-5). Menuduh Allah punya anak atau punya sekutu adalah tindakan syirik, dosa terbesar dalam pandangan Islam. Karena itu syirik disebut sebagai “kezaliman besar”. (QS 31:13).  Nabi Muhammad saw ditugaskan oleh Allah untuk mengajak kaum Kristen agar mereka kembali kepada “satu kata” yang sama, yaitu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga (misi Tauhid) (QS 3:64). 

Dalam perspektif Islam, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi bisa dikatakan “sangat keliru” dan “sangat berlebihan”.  Kaum Muslim Indonesia tentu berharap, Haji Jokowi tidak mau “disalib” dan “dikorbankan” untuk dinobatkan sebagai juru selamat kaum tertentu di Indonesia. Tapi, itu terpulang kepada Pak Haji Jokowi, karena beliau sendiri yang akan bertanggung jawab kepada Allah: apakah ikut berjuang memperkuat misi seluruh Nabi dalam menegakkan Tauhid dan Rahmatan lil-alamin atau mendukung dan memperkuat kesesatan dan kemusyrikan di negeri tercinta ini. Sebagai rakyat, kita hanya menyampaikan taushiyah, hanya sekedar mengingatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.

3 Ciri Intelektual Berwatak Iblis



Sikap ”membuang aturan Tuhan” dalam kehidupan jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Ketuhanan YangMaha Esa.  Katanya, bangsa Indonesia ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Katanya, bangsa Indonesia berdasarkan pada Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tentu sulit diterima akal sehat, jika ada manusia yang mengakui keberadaan Tuhan YME tetapi menolak kedaulatan Tuhan; menolak untuk tunduk patuh pada aturan-aturan Tuhan. Sikap mengakui eksistensi Tuhan tetapi menolak kedaulatan-Nya  seperti itu sudah pernah dicontohkan oleh Iblis, makhluk yang sombong dan durhaka kepada Allah. 

Dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwa Iblis dikutuk dan diusir karena menolak perintah Allah. Iblis tidaklah ateis atau agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ke-Esaan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Tetapi, meskipun ia tahu kebenaran, ia disebut ‘kafir’, karena mengingkari dan menolak untuk tunduk patuh kepada Tuhan YME.

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang. (QS 2:34, 15:31, 20:116). Iblis sombong dan menganggap dirinya hebat (QS 2:34, 38:73, 38:75). Allah berfirman: “Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka terhadap perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain kepada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim” (QS 18:50).  Maka Iblis juga sudah bertekad: “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17).

Sosok Iblis dalam al-Quran adalah sosok yang pintar dan berilmu, sejenis cendekiawan. Dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, Dr. Syamsuddin Arief menjelaskan ciri-ciri “cendekiawan bermental Iblis”. 


Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu.

Kedua, cendekiawan bemental Iblis itu “bermuka dua”, menggunakan standar ganda (QS 2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an : “Akan Aku palingkan mereka yang sombong tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS 7:146).

Ketiga, ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan Iblis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Iblis punya kemampuan juga mencampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah.

Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh. Al-Qur’an pun telah memberitahukan: “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (QS 22:3-4).

Dengan tipudaya Iblis, khamar diiklankan dan dijadikan kebanggaan oleh sebagian manusia modern; perzinahan dianggap biasa dan bukankejahatan, bahkan dilegalkan dan tidak dipersoalkan kebejatannya; pertunjukan telanjang dipromosikan sebagai suatu keindahan (seni) dan amal kebajikan. Di zaman globalisasi saat ini, diakui, bahwa informasi adalah kekuatan yang paling dahsyat. Penguasa informasi adalah yang menguasai otak manusia saat ini. Mereka dengan leluasa berpotensi memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Di sinilah ‘talbis Iblis’ (tipu daya Iblis) dapat terjadi. Yang haq dipromosikan sebagai kebatilan, dan yang bathil dikampanyekan sebagai al-haq. Banyak motif para pelaku talbis Iblis. Bisa karena memang ada kesombongan, ada penyakit hati, atau karena motif mencari keuntungan duniawi.

Kisah Iblis begitu banyak diceritakan dalam al-Quran. Pesannya sangat jelas kepada kita, orang Muslim: jangan contoh perilaku Iblis! Dia memang pintar, tapi licik, durhaka dan berani menantang Tuhan. Satu lagi: dalam menyesatkan manusia, Iblis menggunakan cara-cara yang halus dan canggih. Kata-katanya menawan. Iblis tidak membentak-bentak Adam dan Hawa. Iblis bermuka manis, bertutur kata lembut dan sopan. 

Bahkan, Iblis menampakkan sikap yang sangat simpatik kepada Adam dan Hawa. Iblis sepertinya tidak bertampang seram, seperti digambarkan selama ini dalam berbagai komik dan film atau sinetron. Tapi, Iblis itu bisa berwajah cantik dan menawan. Iblis tidak mengatakan: ”Wahai Adam, tidak usah pedulikan larangan Tuhan!” Tapi, Iblis bersikap sebagai teman akrab. Iblis bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia adalah sahabat karib yang menasehati Adam dan Hawa dengan tulus ikhlas. (QS 7:21). Allah juga mengingatkan, bahwa musuh para Nabi dan pengikutnya adalah ’setan dari jenis manusia dan setan jenis jin’ yang aktivitas mereka adalah membisikkan kata-kata indah (zukhrufal qauli) untuk menipu manusia. (QS 6:112). 

kaum Muslim  patut merenungkan benar-benar kisah Iblis, sifat, perilaku dan kiat-kiat propagandanya dalam menyesatkan manusia. Iblis  sudah terbukti sangat profesional dalam soal penyesatan manusia. Perbuatan yang jelas-jelas munkar dan jahat bisa dikemas dan dipropagandakan sedemikian rupa sehingga tampak indah, menawan, dan mendapatkan dukungan masyarakat secara luas.  Karena itulah, kita diseru oleh Allah SWT: ”Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah, dan jangan sekali-kali mengikuti ’garis-garis’ setan. Sesungguhnya setan adalah musuhmu yang nyata.” (QS 2:208).

Jadi, jika mau selamat dari tipu daya Iblis, maka kita diimbau agar masuk ke dalam Islam secara kaffah. Jangan tanggung-tanggung jadi orang Muslim! Jangan bersikap seperti Iblis! Hanya mau menerima hal-hal tertentu yang disukainya, tetapi menolak aturan-aturan Allah yang tidak disukai atau dianggap merugikan dirinya! 

Tapi, kita manusia, yang bisa khilaf dan lupa. Jika kita sempat tergoda Iblis atau setan, terjebak dalam tipudayanya, segeralah kita ingat Allah, bertobat! Manusia yang baik, bukan tidak pernah salah dan dosa, tetapi manusia yang segera sadar akan kessalahannya. Itulah yang dilakukan oleh Adam a.s. Jangan seperti Iblis! Sudah berbuat salah, tidak mengaku salah, tapi malah membangkang dan berani menantang Tuhan. Na’udzublillahi min dzalika. Kita berlindung kepada Allah dari sikap-sikap pongah gaya Iblis semacam itu. 

Berikut ini doa yang diajarkan Nabi saw agar kita terhindar dari godaan setan: ”Rabbi a’udzubika min hamazaatisy syayaathini, wa-a’udzubika Rabbi an-yahdhurun.”  (Ya Allah, Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan; dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku).”  

Sumber : Tulisan dr andian husaini

Jumat, 01 September 2017

Akhlaq Mulia Adalah KUNCI SUKSES Dalam Berdakwah


Oleh: Mohammad Natsir (Mantan Ketua Umum Masyumi)
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlaq" (HR Malik)
"Wahai Tuhan Kami. Dan bangkitlah diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang menyampaikan kepada mereka kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah yang Gagah, Maha Bijaksana." (Al Baqarah 129).
Sudah kita jelajahi bagaimana daya tarik lisanul hal dan uswah hasanah di bidang da'wah. Tarikan bahasanya ibarat tarikan magnet (besi berani) terhadap apa saja yang bersifat logam, yang bermutu tinggi atau yang tidak. Sumber tenaga bagi daya tarik itu tidak lagi terletak pada ilmu, dan tidak pula pada hikmah. Ilmu dan hikmah hanya pembuka jalan. Sumber tenaganya sendiri terletak pada akhlaq pribadi dari pembawa da'wah sendiri.
Akhlaq dengan mempergunakan ta'rif yang lazim, ialah: yakni, sifat yang berurat berakar pada diri seseorang, yang terbit daripadanya amal perbuatan dengan mudah, tanpa dipikir-pikir dan ditimbang-timbang lagi, secara spontan kata orang sekarang. Baik atau buruknya amal perbuatan yang terbit secara spontan itu tergantung pada baik atau buruknya akhlaq pribadi yang bersangkutan. Lisanul hal yang baik dan uswah hasanah yang menarik hanya bisa terbit dari akhlaq yang baik dan mulia, kahlaqul karimah. Begitu pula sebaliknya.
Adapun yang dibawakan seorang mubaligh adalah wahyu Ilahi dan Sunnah Rasul. Yakni barang yang hak dan murni, yang sebenarnya sudah mengandung daya dan kekuatan sendiri, ibarat singa yang bisa dilepaskan, sanggup mencari dan menaklukkan mangsanya sendiri. Akan tetapi sebelum dia dapat dilepaskan, yakni sebelum isi dari da'wah itu dapat dihidangkan dan diperkenalkan secara mendalam, mata orang, pada taraf pertama lebih banyak tertuju kepada apa yang dapat dilihat dan didengar dari hal ihwal dan sifat pribadi yang membawanya.
Penilaian orang terhadap akhlaq pribadi pembawa da'wah itu, sebagian besar mempengaruhi, malah bisa menentukan, apa akan terbukakah pintu bagi isi da'wah yang disampaikannya atau tidak. Umpamanya bagi seorang kaisar Romawi, Heraclius, sesudah dia mendengar dari Abu Sufyan, yang dikala itu belum masuk Islam, malah diantara para pemimpin Quraisy yang paling gigih memusuhi Rasulullah saw bagaimana sifat-sifat Muhammad saw beserta pengikut-pengikutnya, sudah merasa cukup untuk mengambil kesimpulan:
"…Bila semua yang engkau terangkan itu benar, niscaya ia (Muhammad saw) akan menguasai bumi yang ada di bawah telapak kakiku ini. Aku sudah tahu bahwa seorang Nabi akan datang, tapi aku tidak sangka, bahwa dia akan dibangkitkan dari kalanganmu (bangsa Arab). Sekiranya aku sampai ke tempatnya, pasti akan kuperlukan menemuinya. Dan bila aku berhadapan dengan dia, akan kubasuh kedua telapak kakinya."[1]
Yang diterangkan oleh Abu Sufyan kepada Heraclius, dalam menjawab satu rentetan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan secara kategoris oleh Raja Romawi itu kepadanya, antara lain ialah bahwa:Muhammad saw tampil sebagai Rasul dari kalangan kaumnya sendiri, tidak ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, tidak ada sebelumnya diantara kaumnya yang menyampaikan ajaran-ajaran seperti yang dibawakan oleh Muhammad saw
Pengikut-pengikutnya pada umumnya terdiri dari orang-orang awam yang miskin. Tidak seorangpun dari pengikutnya yang murtad lantaran tumbuh benci kepada agama itu sesudah dimasukinya, Pengikutnya tidak berkurang, malah kian hari kian besar jumlahnya tidak pernah Muhammad saw kedapatan berdusta dan Tidak pernah ia mengkhianati janji.
Yang diajarkannya ialah supaya menyembah Allah semata-mata, dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, melarang menyembah berhala, menyuruh menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan hidup bersih lahir dan batin. Bagi seorang Heraclius yang berfikir secara kritis, pengetahuan tentang akhlaq pribadi Muhammad saw (serta hal ihwal para pengikutnya) yang diperoleh dari fihak lawannya sendiri, yang demikian itu baginya sudah cukup untuk sampai kepada kesimpulan seperti yang diucapkannya itu.
Dengan demikian pintu sudah terbuka, dan kebenaran sudah sampai, yakni diterima. Adapun apakah pengakuan kepada kebenaran itu oleh seseorang, selanjutnya juga akan menjelma menjadi hidayah bagi dirinya, yang menuntun amal perbuatan dan tindak tanduknya, seterusnya, ini tidak lagi terletak dalam kekuasaan pembawa da'wah. Ini terletak di luar "wilayah da'wah" seperti yang pernah kita kemukakan terdahulu.[2]
Hutang pembawa da'wah, sebagaimana juga pembawa risalah adalah menyampaikan sehingga sampai, dalam arti yang demikian itu. Dan hutangnya juga, sekurang-kurangnya menjauhkan diri dari sisi pribadinya sendiri segala sifat-sifat dan tingkah laku yang dapat merintangi sampainya kebenaran yang dibawakanya. Soalnya bagi seorang mubaligh ialah bahwa satu kali dia melangkahkan kaki ke dalam gelanggang da'wah, maka semua mata dan telinga di sekitarnya tertuju kepada pribadinya, kepada tingkah lakunya, kepada sifat dan tabiatnya, ringkasnya kepada apa yang disebut "hidup pribadinya".
Boleh dikatakan bahwa semenjak itu, dia sebenarnya tidak lagi mempunyai hidup pribadi dalam arti yang lazim dipakai untuk orang lain. Semenjak itu dia menjadi "milik masyarakat", seorang "public person" dalam arti yang luas. Dia tidak bisa bersikap, turut saja perkataanku, jangan pedulikan bagaimana aku dan apa yang aku lakukan si samping itu! Tidak! Andaikata ada sesuatu fungsi lain dimana yang bersangkutan bisa bersikap begitu, kedudukan sebagai seorang pendukung da'wah tidak mengizinkan berpendirian demikian.
Mau tak mau gerak gerik dalam hidup pribadinya bukan saja diperhatikan, tetapi juga langsung dijadikan orang bahan perbandingan dengan apa yang dianjurkannya dan yang dilarangnya sebagai mubaligh. Apa yang dilihat dan didengar orang dari hidup pribadinya itu bisa menambah kekuatan daya panggilnya sebagai pembawa da'wah tapi bisa pula melumpuhkan daya panggilnya, yakni bila lain yang tampak dari yang terdengar.
Begitu pembawaan dari tugasnya.
Da'wah dan akhlaqul karimah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain, kalau da'wah hendak berhasil. Banyak hal-hal yang sulit yang tak dapat diatasi dengan semata-mata ilmu yang kering, dapat diatasi dengan akhlaq. Sebaliknya banyak kesulitan baru yang bisa timbul bila da'wah tidak didukung oleh akhlaq.
Salah satu contoh:
Suatu hal yang karakteristik (bersifat khusus) dari pekerjaan seorang mubaligh ialah bahwa ia melakukan tugasnya dalam rangka dan suasana kemerdekaan berfikir, yang diakui dan ditegaskan oleh Risalah sendiri, sebagaimana telah dikemukakan dalam bab Fiqhud Da'wah yang terdahulu. Seorang mubaligh yang menerima kemerdekaan berfikir dan mengatakan pendapat sebagai salah satu hak asasi, dan salah satu qaidah agama, tidak usah merasa kecil hati atau hilang kesabaran, apabila dalam melakukan tugasnya ia melihat ada berbagai perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri tentang masalah agama. Yakni berupa perbedaan –perbedaan pendapat yang disebut ikhtilaf. Baik di bidang hukum fiqh ataupun dalam soal-soal yang sudah menyinggung bidang aqidah, ada yang ringan dan ada yang berat.
Sudah tentu sebagai seorang mubaligh, ia tidak bisa menghindarkan diri daripada menentukan posisinya di tengah-tengah persimpangsiuran faham dan pendapat itu. Ia seorang tempat bertanya. Dia dilarang kitman, menyembunyikan kebenaran yang dia sudah ketahui.
"Dan janganlah kamu samarkan yang benar dengan yang salah, dan (Janganlah) kamu sembunyikan kebenaran padahal engkau ketahui." (Al Baqarah 42).
Tidak ada gunanya dia bersikap pura-pura tak tahu, dia meniru-niru siasat burung unta yang terkenal itu: yakni menyurukkan kepalanya dalam pasir, supaya jangan kelihatan bahaya datang. Tidaklah selaras pula dengan tugasnya, bila ia mencoba-coba menutup rapat semua jalan bagi perbedaan faham itu sama sekali dengan alasan supaya semuanya hidup rukun, damai dan tenang.
Air yang dibiarkan tergenang dalam tebat atau balong terus menerus, tidak dialirkan, tidak ditambah, tidak dikurangi, tentu saja tenang. Tenang tapi tidak ada yang bisa hidup di dalamnya, kecuali benih dari segala macam penyakit. Bukan "ketenangan" yang semacam itu yang dikehendaki Risalah Muhammad saw. Risalah menghendaki pembersihan, menghendaki perkembangan…
Untuk ini, Risalah mewajibkan tafakkur, tadabbur, tafaqquh fid din, tafaqquh fiddunya al mutathawwirah, membukakan pintu ijtihad atas garis-garis yang tertentu, dan dengan perlengkapan alat-alat yang diperlukan untuk itu. Terkenal antara lain dalam rangka ini percakapan Rasulullah saw dengan Muadz bin Jabal, di waktu Muadz akan berangkat untuk memimpin pemerintahan daerah Yaman :…* (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.
Oleh: Mohammad Natsir
Bertanya Rasulullah saw kepada Muadz:
"Dengan apa engkau menentukan hukum?"
Menjawab Muadz: "Dengan Kitabullah."
Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati (di sana)?"
Muadz: "Dengan Sunnah Rasulullah saw"
Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati ( di sana)?"
Muadz: "Aku akan berijtihad dengan pendapatku."
Rasulullah saw: "Segala puji bagi Allah yang telah menyesuaikan (pendirian) utusan Rasulullah dengan apa yang diridhai oleh Rasulullah." (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).
Rasulullah saw menggemarkan umatnya melakukan ijtihad dalam menghadapi "perkembangan zaman yang terus beredar" ini dengan sabda:
"Barangsiapa berijtihad dan hasilnya betul, maka dia mendapat dua ganjaran dan barangsiapa berijtihad sedangkan hasilnya salah, maka dia mendapat satu ganjaran." (HR Bukhari)
Tafaqquh fiddin dan ijtihad, tidak mustahil, malah lazim menghasilkan pendapat yang berbeda-beda: Ikhtilaf.
Maka tidaklah ada hikmah dalam suatu usaha untuk membekukan amar makruf nahi mungkar, lantaran hendak mengelakkan ikhtilaf, lantaran ingin menjaga agar ketenangan jangan terganggu dengan akibat: segala sesuatu jadi tergenang, terapung tak hanyut.
Hikmah dengan membungkamkan da'wah, bukan hikmah, tapi suatu kelumpuhan; kelumpuhan yang mengakibatkan umat menjadi jumud, beku dan kesesatan terus merajalela.
Al Qur'an melukiskan sikap jumud dengan jawaban golongan yang membeku itu terhadap panggilan da'wah antara lain:
قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
"…Mereka berkata: Cukuplah bagi kami apa-apa yang kami dapati nenek moyang kami atasnya…" (Al Maidah 104)
قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا
"…Mereka berkata: Hanya kami hendak menurut (cara-cara) yang dilakukan oleh nenek moyang kami…"(Al Baqarah 170)
قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا
"…Mereka berkata: Hanya kami menurut apa-apa yang dianut oleh nenek moyang kami…" (Luqman 21)
Tidak ada larangan agama terhadap ikhtilaf yang dihasilkan oleh tafaqquh fiddin dan ijtihad. Yang merusak keutuhan umat dan lantaran itu terlarang, ialah jumud dan tafarruq, beku dan berpecah belah.
Kita sama sekali tidak harus memilih hanya salah satu dari alternatif: beku atau pecah belah. Tak ada yang harus dipilih antara jumud dan tafarruq. Kedua-duanya harus ditolak, kedua-duanya harus disingkirkan.
Semata-mata ikhtilaf tidak otomatis mengakibatkan tafarruq.
Di kalangan para shahabat pun juga terdapat ikhtilaf, perbedaan faham tentang masalah-masalah fiqh, tetapi mereka tidak pecah belah lantarannya. Mereka berpegang kepada petunjuk Risalah sendiri, bagaimana cara menghadapi sesuatu perbedaan pendapat.
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
"…Maka apabila kamu berbantahan tentang sesuatu, maka pulangkanlah kepada Allah dan Rasul." (An Nisa 59).
Dengan demikian mereka terhindar dari tafarruq.
Diantara para imam mujtahidin yang besar-besar pun ada ikhtilaf. Terdapat ikhtilaf diantara beberapa pendapat Imam Syafii dan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Malik; antara beberapa pendapat-pendapat Imam Ibnu Hambal dengan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Syafii; antara beberapa pendapat Imam Abu Hanifah dengan pendapat-pendapat para Imam mujtahidin yang bertiga itu (rahimahumullah).
Mereka berpegang teguh kepada pedoman yang telah dipakai oleh para shahabat. Dengan rumusan kata-kata yang terang dan dengan gaya masing-masing, mereka tegaskan kepada para murid dan pengikut-pengikut mereka, supaya jangan sekali-kali menganggap fatwa mereka sebagai suatu kata keputusan yang tidak bisa dibanding lagi, supaya bila bertemu dengan nash Al Qur'an atau Sunnah Rasul yang berlawanan dengan fatwa mereka, yang dipegang ialah Al Qur'an atau Sunnah Rasul dan fatwa merekalah yang gugur.
Kepada setiap orang yang menelaah fatwa beliau, Imam Syafii mengamanatkan pula:
"Apabila kamu menemui dalam kitabku sesuatu yang bersalah dengan Sunnah Rasulullah saw, maka berpeganglah kepada Sunnah Rasulullah saw dan tolaklah apa yang kufatwakan." (Al Baihaqi, Al Manar, jilid IV, 693).
Berkata Imam Malik bin Anas,
"Aku hanya seorang manusia, bisa salah, bisa betul; maka perhatikanlah pendapat-pendapatku; semua yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, perpegangilah, dan semua yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah." (Ibn Abdil Barr, Al Manar, Jilid IV, 572).
Di waktu seorang bertanya kepada Imam Abu Hanifah bagaimanakah bila ternyata bahwa suatu fatwa beliau bersalahan dengan Kitabullah, dan bagaimana bila ternyata bersalahan dengan Sunnah Rasul. Beliau menjawab:
"Tinggalkan fatwaku lantaran (ketentuan) Kitabullah." Dan :
"Tinggalkan fatwaku lentaran (ketentuan) Sunnah Rasul saw. (Asy Syaukani, Al Qaulul Mufid 23).
Semakin tinggi mujtahid, semakin tinggi pula penghargaan mereka terhadap hak dan kesempatan untuk berijtihad bagi orang lain, baik yang sezaman dengan mereka ataupun yang datang sesudah mereka. Mereka berijtihad dengan sepenuh tenaga, dan penuh rasa tanggungjawab kepada Allah. Sebagaimana diketahui Imam Syafii tidak segan-segan mengoreksi fatwanya sendiri, bila beliau mengetahui, bahwa perlu dikoreksi. Dengan demikian ada Qaulul Qadim (fatwa yang terdahulu sewaktu di Irak) dan ada Qaulul Jadid (fatwa yang baru sewaktu di Mesir), dari Imam Syafii.
Berkata beliau,
"Tiap-tiap masalah yang sah atasnya dari Hadits Rasulullah saw dan menyalahi fatwaku, maka aku rujuk daripadanya (dari fatwaku), di waktu aku (masih) hidup dan sesudah aku mati." (Asy Syaukani al Qaulul Mufid 24).
Ruju' kembali kepada kebenaran, bila ternyata keliru, mereka anggap suatu kewajiban, satu tindakan yang mulia, bukan satu keaiban.
Perhatikan pula, bagaimana "kolegialnya" segar dan ikhlasnya hubungan pribadi diantara mereka, sekalipun terdapat perbedaan diantara fatwa-fatwa mereka dalam beberapa hal. Meriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal,
"Telah berkata Syafii kepadaku: Bila kau mengetahui suatu hadits yang shahih, sampaikanlah kepadaku, supaya kujadikan dasar bagi fatwaku." (Al Manar IV, 694).
Sikap jiwa mereka yang bersih dalam semua hal, memang terbayang pula dalam kelaziman mereka menutup tiap-tiap fatwa mereka dengan kata-kata Wallaahu a'lam. Yakni: Inilah pendapatku, sebagai hasil dari ijtihadku, dengan sekuat daya ilmuku. Dalam pada itu Allah jua yang lebih mengetahui akan kebenaran.[i]
Sebaliknya berpantang pula mereka menggunakan kekuasaan duniawi untuk memonopoli fikiran orang banyak. Diriwayatkan bahwa pernah Khalifah Harun ar Rasyid bermaksud hendak mendekritkan fatwa Imam Malik sebagai "mazhab resmi" untuk dianut oleh seluruh warga negaranya. Tetapi Imam Malik sendiri yang tidak setuju dan melarang Khalifah berbuat begitu. (Asy Syaukani: Al Qaulul Mufid 28).
Demikianlah para imam mujtahidin menunjukkan dengan kata-kata yang terang, dan dengan contoh teladan yang amat indahnya dalam sejarah para ahli fikir dan perkembangan fikiran manusia, bagaimana yang disebut berijtihad, memeras otak mencari kebenaran, serta bertahkim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul bila terdapat perselisihan faham: dan apa artinya mempertahankan keyakinan sendiri serta menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat. Sehingga terpelihara ikhtilaf tidak mengakibatkan tafarruq, keutuhan umat terpelihara, tanpa pembekuan dan keteguhan pendirian terjelma, tanpa taasub.
Demikianlah baik para sahabat ataupun para Imam Mujtahidin sama sekali tidak mengusahakan adanya pembekuan, sedangkan ikhtilaf diantara mereka tidak mengakibatkan tafarruq.
Maka tidak ada alasan sama sekali untuk terombang ambing dua hal yang tidak harus dipilih salah satunya itu, jumud atau tafarruq. Juga para alim ulama dan muballighin kita niscaya dapat menyingkirkan kedua-duanya. Petunjuk Al Qur'an tentang bagaimana menghadapi perbedaan pendapat itu, bukan dikhususkan untuk para Sahabat dan para imam mujtahidin zaman yang silam itu saja. Al Qur'an keseluruhannya berlaku buat mereka, buat kita sekarang ini, dan buat keturunan di belakang kita. Kebekuan dan perpecahan, kedua-duanya bisa disingkirkan dengan da'wah bil hikmah dengan mauidzah hasanah, dengan mujahadah billati hiya ahsan, dan dengan sama-sama bertahkim kepada Allah dan Rasul, dengan ridha! Dan dimana perlu dengan kesanggupan untuk keluar dari sesuatu pertukaran fikiran yang belum kunjung putus, dalam suasana "Allah lebih mengetahui" dan:
"Tuhan kita akan menghimpun kita, dan akan memberi keputusan antara kita dengan benar, dan Dialah Pemberi keputusan Yang Maha Mengetahui." (As Saba' 26).
Walaupun bagaimana , tidak dengan menyambung munadzarah yang belum selesai dalam kalangan para ahli, dengan pertengkaran mulut yang tak menentu di kalangan awam.
Pernah Imam al Ghazali menasehatkan kepada mereka yang hendak memasuki pembahasan-pembahasan "khilafiyah", supaya terlebih dahulu memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah "mutafaq alaih", yakni yang sudah tidak syak lagi, semua Umat Islam bersatu pendapat tentangnya.
Berkata beliau: "Semua ahli agama sudah sepakat, bahwa perbekalan untuk hidup akhirat adalah taqwa, dan wara' (kebersihan rohani dan kebersihan dari segala tingkah laku yang mungkar), bahwa mencari nafkah dengan jalan yang haram, memiliki harta haram, menceritakan keburukan orang lain (namimah), mencuri, berkhianat dan lain-lain hal yang terlarang oleh agama, hukumnya haram dan bahwa semua yang diperintahkan oleh agama, hukumnya wajib.
Maka apabila engkau sudah penuhi ini semua, aku akan ajarkan bagaimana jalan keluar dari kemusykilan masalah-masalah khilafiyah itu.
Tapi bila seseorang yang tidak memperdulikan kewajiban-kewajibannya yang "muttafaq alaih" ini semua, lalu bertanya-tanya kepadaku perkara soal-soal khilafiyah, dia itu bukan seorang awam (yang memang menghajatkan keterangan hukum untuk diamalkannya) tetapi seorang "jadaly", (yang suka debat berdebat) saja.
Adakah engkau melihat teman-temanmu yang sudah memenuhi (ketentuan-ketentuan) ini semua, lalu kena cekik oleh kemusykilan-kemusykilan masalah khilafiyah?", tanya Imam al Ghazali.[1]
"Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam keselamatan dan jangan kamu turut langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya ia itu musuhmu yang nyata." (Al Baqarah 208).
Dalam hubungan dengan ayat-ayat surat al An'am 153 dan 159, Syekh Muhammad Abduh berkata antara lain:
"…Ayat-ayat ini adalah hujjah bagi ulama-ulama usul yang berkata bahwa hak itu adalah satu, tidak berbilang. Alangkah baiknya apabila mereka yang berpegang kepada usul ini, mewajibkan atas diri mereka, untuk berkumpul pada setiap kali mereka berjumpa dengan perbedaan faham, lalu membahasnya, untuk mencari kebenaran tanpa taasub dan tanpa nifaq, sehingga bila mereka dapat melihat kebenaran itu, mereka berijma' atasnya. Tetapi apabila sebagian dari mereka belum dapat melihat, maka mereka harus bertekun mencarinya dengan ikhlas, dan dan tidak ada seseorang diantara mereka memusuhi yang lain lantaran (masalah) itu, dan tidak pula menjadikannya suatu alat untuk perpecahan. Jalan hak adalah persatuan dan berserah diri (kepada Allah SWT) dan jalan-jalan syaithan adalah mengorbankan perpecahan dan permusuhan…Ini cukup diketahui di kalangan umat manusia. Hanya syaithan (senantiasa) memikat manusia kepada jalan-jalan yang ditempuhnya dan menggambarkan kepada mereka seolah-olah ada keuntungan-keuntungan dan kebaikan dalam perpecahan dan permusuhan…" Demikian Syekh Muhammad Abduh.
Maka tidaklah begitu sulit untuk mencarikan jawab bagi pertanyaan: darimana tafarruq.
Kalau kita mau mencari sumbernya secara jujur, nyatalah bahwa timbulnya tafarruq bukan saja lantaran tidak adanya hikmah dalam da'wah, tetapi terutama lantaran luputnya ikhlash, lantaran datangnya ananiyah yang menggantikan ikhlas, maka pulang kepada "tazkiyatun nafs" yang telah kita kemukakan dalam bab "Fqihud Da'wah" yang terdahulu.
Apabila sudah datang ananiyah mencampuri usaha da'wah, maka hinggaplah ria pada diri pembawa da'wah, dan taasub pada lingkungan pengikutnya. Penyakit riya disatu fihak, dan taasub di lain fihak, kedua-duanya menghalang-halangi seorang mubaligh untuk ruju' dari kekeliruan bila ada, kedua-duanya mendorongnya supaya mempertahankan tuahdan prestise diri dan golongannya, mendorongnya supaya terus pula mempertahankan tuah itu sampai jadi lebih besar lagi kalau masih bisa; kedua-duanya menutup matanya dari tempat bertahkim, yang ditunjukkan oleh Risalah, yang diperpegangi oleh para Sahabat dan para imam mujtahidin yang mukhlisin itu.
Ia lebih suka bertahkim kepada khalayak ramai yang turut menonton debat, kepada jumlah murid dan pengikut masing-masing: mana yang lebih banyak!
Para murid dan pengikutpun dibiarkan beradu antara satu sama lain, dimana saja asal bertemu, di tempat walimah, di tempat orang kematian, di pasar-pasar dan warung-warung kopi, lebih banyak bersifat perang ejekan dan cemooh, sambil membagi-bagi api neraka bagi masing-masing lawan daripada bertukar hujjah dan keterangan secara sungguh-sungguh. Segala sesuatunya demi untuk menegakkan tuah Tuan Guru masing-masing.
Adapun din, adapun agama itu sendiri sudah lama tercecer di tengah jalan. Tidak lagi dirasakan sebagai kepunyaan Allah, akan tetapi sudah seolah-olah dijadikan milik monopoli masing-masing golongan untuk melayani kepentingan golongan masing-masing.
Ini sudah bukan ikhtilaf lagi dan bukan da'wah lagi. Yang macam ini tidak ada sangkut pautnya dengan da'wah lilLah, sebagai kelanjutan Risalah Muhammad saw.
"Sesungguhnya orang-orang yang membagi agama mereka, sehingga menjadi beberapa golongan yang berpisah-pisah, bukanlah engkau (Muhammad) dari (golongan) mereka tentang sesuatu apapun." (Al An'am 159).
Ini tafarruq dan sebab-sebab tafarruq.
Bukan lantaran adanya ikhtilaf, bukan lantaran adanya da'wah. Tetapi akibat dari turut campurnya hawa nafsu dalam da'wah. Akibat menyelinapnya sifat ananiyah, dengan rentetan anak cucunya ke dalam pribadi pembawa da'wah. Ringkasnya akibat pembawa da'wah ketinggalan akhlaq.
Dalam keadaan yang semacam itu, bagaimana pula dia akan mampu menebarkan benih akhlaq di kalangan umat sekitarnya? Dan kalau para penuntun beserta para pengikut sudah sama-sama ketinggalan yang satu itu, sedangkan hawa nafsu sudah memegang kendali, tafarruq apakah yang takkan bisa terjadi sesudah itu?
Segala macam akan bisa terjadi, dalam keadaan itu, walaupun ilmu masing-masing sudah menerawang langit:
"Maka sudahkah engkau perhatikan (keadaan) orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah biarkan dia sesat, padahal ia tahu (bagaimana yang semestinya)" (Al Jatsiah 23).
Segala macam akan bisa tersua, kecuali kalimatullah hiyal ulya, dan pembinaan umat atas dasar kalimah itu. Oleh karena itu akhlaq adalah soko guru bagi pembangunan umat. Rasulullah saw sendiri pernah menyimpulkan tujuan seluruh Risalahnya dengan:
"Sesungguhnya aku tidak diutus, melainkan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."
Risalah keseluruhannya ditujukan kepada penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bagaimana akan melanjutkan Risalah itu dengan da'wah tanpa akhlaq pada sisi orang yang membawakan da'wah itu!
Tanpa akhlaqul karimah tak aka nada uswah yang baik, tak aka nada lisanul hal yang menarik, tak aka nada hajrun jamil, cara perpisahan yang indah, tak akan ada qaulan sadid, kata yang lurus dan tepat, keluar dari hati yang murni, tak aka nada mawaddah fil qurba, hubungan rasa ikhlas mesra dan dengan demikian, tak aka nada hikmah.
Yang akan mungkin ada hanyalah kecerdikan mempesona orang banyak, hampa dari jiwa iman dan taqwa. Dan dengan demikian yang akan mungkin ada pula, ialah semacam hiburan untuk umum, selama yang berpidato berdiri di atas mimbar, sebagaimana hiburan yang dapat dihidangkan oleh sandiwara komisi stambul, selama para pelakon bermain di atas panggung, sebelum layar diturunkan.
Tetapi bukan da'wah bilhikmah, bukan da'wah lilLah.
Akhlaqul karimah adalah tiang tengahnya da'wah.
Tidaklah pula suatu masyarakat itu menuntut supaya mubalighnya harus seperti malaikat. Mereka pun maklum bahwa mubaligh mereka bukan seorang Nabi yang ma'shum.
Yang diharapkan mereka ialah, supaya penuntun mereka itu memeloporimereka dalam perbuatan, untuk menegakkan amar makruf, yang dianjurkannya: mendahului mereka dalam menjauhkan diri dari kemungkaran yang disuruh jauhinya, mendahului mereka dalam menegakkan akhlaq dan moral yang tinggi.
Menegur Allah SWT dalam Al Qur'anul Karim:
"Adakah (patut) kamu menyuruh manusia berbuat kebaikan, padahal kamu lupakan diri kamu (sendiri), sedangkan kamu membawa kitab (agama kamu)? Kalau begitu apakah kamu tidak mau mengerti?" (Al Baqarah 44).
Yakni apakah kamu tidak mengerti, bagaimana seharusnya menjalankan tugasmu?
Diperingatkan pula selanjutnya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Kenapakah kamu berkata apa-apa yang tidak kamu kerjakan? Besar kemurkaan di sisi Allah, lantaran kamu berkata apa yang kamu tidak kerjakan." (as Shaff 2-3).
Yakni bila kamu tidak kerjakan bermacam kebaikan yang kamu sebut-sebut (anjur-anjurkan).
Nyatalah bahwa belumlah cukup, bila seorang pembawa da'wah baru hanya membawakan ilmu, dan membawakan hikmah dalam arti cara-cara mempergunakan ilmu itu.
Berdoa Nabi Allah Ibrahim as:
"Wahai Tuhan Kami! Dan bangkitkan diantara mereka itu seorang Rasul dari (kaum) mereka, yang membacakan kepada mereka firmanMu dan mengajarkan kepada mereka Kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Gagah, Maha Bijaksana." (al Baqarah 129).
Doa Nabi Allah Ibrahim as telah terkabul dengan diutusnya Rasulullah, Muhammad saw yang membawakan kepada umatnya: ilmu (kitab), hikmah dan tazkiyah, pembersih rohani yang memancarkan akhlaqul karimah.
Maka kita berdoa kepada Allah Yang Maha Karim, semoga umat kita ini, senantiasa dikaruniai Ilahi, para pembawa da'wah yang selaku ahli waris Nabi-Nabi, memiliki ketiga-tiga unsur Risalah itu pada diri mereka: ilmu, hikmah, tazkiyatun nafs, dalam kadar setinggi mungkin yang dapat mereka miliki sebagai manusia mu'min yang mukhlish sehingga mereka sanggup menebarkan benih-benih tersebut, sebagai penawar hidup, ke dalam tubuh Umat Islam, dari masa ke masa! Amin! * (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.

[1] Qisthasul Mustaqim, Tafsir Muhammad Abduh, jilid 3, 15.
[i] Imam Malik bin Anas, rela dihukum pukul, daripada melepaskan pendirian yang diyakininya. Imam Ahmad bin Hambal, dirantai oleh penguasa negara, Khalifah Ma'mun, lantaran tidak mau menurut perintah untuk merngubah pendiriannya mengenai suatu masalah aqidah (tentang hadits atau qadimnya Qur'an). Imam Abu Hanifah dipenjarakan oleh Khalifah al Mansur, lantaran tidak mau diangkat menjadi Qadhi. Beliau wafat dalam penjara.
[1] Shuwarun min Hayatir Rasul, Amien Dwaidar. Andaikata Heraclius sampai bertemu dengan Rasulullah saw, tentulah dia tidak akan dibiarkan memberi penghormatan semacam itu, satu perhormatan antara sesama manusia, yang walau bagaimanapun tidak dibenarkan oleh Islam.
[2] Sebagaimana diketahui, di waktu melihat bahwa para pembesar Romawi di kalangan istana menentang sikapnya itu, Heraclius khawatir akan kehilangan kekuasaannya lalu dia mundur. Tapi surat Rasulullah saw disimpannya baik-baik, tidak dirobeknya, sebagaimana dituntut oleh pembesar-pembesar istananya. Haus kepada kekuasaan duniawi juga menabirnya dari kebenaran yang sudah tampak olehnya, sebagaimana juga ketakutan dan ejekan dan cemooh orang telah menghambat Abu Thalib paman Rasulullah, untuk menerima seruan Muhammad saw. Meskipun demikian kekuasaan Heraclius tidak urung berkurang jua justru lantaran sikap yang maju mundur itu. Kaisar Najasyi yang sudah masuk Islam dengan yakin melepaskan diri dari kekuasannya, dan menghentikan pembayaran upeti kepada kerajaan Romawi. Tatkala Heraclius ditanya kenapa dia tidak bertindak terhadap Kaisar Najasyi, dia menjawab: "Seseorang menghajatkan agama, lalu dia pilih mana yang cocok. Demi Allah kalaulah tidak hendak tetap memegang kerajaanku, pasti aku akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Najasyi." (Zaadul Maad III). Dalam pada itu apa yang diamalkan oleh Heraclius menjadi kenyataan juga. Islam berkembang juga sampai ke bumi yang pernah berada di bawah telapak kakinya itu (Syam), dan lebih luas lagi dari itu.