Oleh : M Alie Marzen.
Ketika Peringatan Sakral Kehilangan Kesuciannya
Di Pekalongan, wilayah yang selama ini dikenal sebagai Kota Santri dengan tradisi keagamaan yang sangat kuat, sebuah pertunjukan jalanan dalam rangkaian acara peringatan momen sakral tersebut justru memamerkan atraksi bertema kegelapan yang kental dengan estetika satanis dan okultisme. Penggunaan atribut gothic bernuansa demonic, simbol pentagram yang digambar dengan presisi geometri spesifik, hingga adegan teaterikal penyembelihan kambing yang mengerikan menjadi tontonan terbuka di tengah ruang publik.
Peristiwa ini segera memicu gelombang kemarahan dan keresahan luas. Bagaimana mungkin sebuah momen yang bertujuan untuk memuliakan pembawa risalah tauhid justru disusupi oleh atraksi yang merepresentasikan simbolisme penyembahan iblis dan kemusyrikan? Ketika hal tersebut dibela dan dibenarkan dengan dalih "kreativitas teater" atau "seni pertunjukan," masyarakat dihadapkan pada sebuah krisis moral dan akal sehat yang sangat mendalam.
Presisi Visual dan Logika Cacat "Sekadar Ikut-Ikutan"
Dalam berbagai klarifikasi pasca-kejadian, pihak panitia dan tim kreatif sering kali melontarkan alasan klasik: keteledoran, sekadar hiburan, atau bentuk adaptasi tren teater dari daerah lain tanpa ada niat melakukan ritual mistis yang sesungguhnya. Namun, jika dibedah secara kritis dari sudut pandang analisis simbolis, pembelaan tersebut sangat rapuh dan sulit diterima oleh akal sehat.
Seorang pakar atau pengamat simbolisme dengan mudah dapat membedakan antara keteledoran asal-asalan dengan penyusunan konsep visual yang disengaja. Apabila sebuah pertunjukan murni dilakukan karena "ikut-ikutan" tanpa pemahaman, simbol yang muncul biasanya acak, melenceng, atau sekadar gambar bintang dekoratif yang tidak simetris. Namun, ketika yang ditampilkan di panggung adalah pentagram terbalik dengan struktur geometri yang sangat presisi, dipadukan dengan elemen teaterikal darah dan adegan penyembelihan fisik, maka di situ ada perencanaan visual yang matang (intentional design).
Menyebut kehadiran simbol-simbol okultisme spesifik tersebut sebagai "sekadar seni" adalah bentuk manipulasi logika yang berbahaya. Menggunakan tameng kebebasan berekspresi untuk membenarkan tindakan yang secara lahiriah meniru tata cara atau identitas penyembahan iblis adalah kerancuan berpikir yang nyata. Seni yang berakal sehat diciptakan untuk menghaluskan budi pekerti dan mengangkat martabat manusia, bukan untuk mengerdilkan nilai-nilai ketuhanan demi mengejar sensasi visual yang provokatif.
Pengerdilan Makna Seni dan Analogi Tanpa Batas
Argumentasi yang memaksakan bahwa "semua hal bisa dibenarkan atas nama seni" pada hakikatnya sedang merubuhkan bangunan hukum dan moral masyarakat. Jika logika ini diturutkan, maka batas antara kebaikan, kejahatan, dan penodaan akan runtuh sepenuhnya. Seseorang dapat saja melakukan tindakan kriminalitas, pelecehan, atau pelanggaran hukum yang berat, lalu membela diri dengan berdalih bahwa itu adalah "eksplorasi keindahan" atau "pertunjukan teater." Tentu saja logika semacam itu sama sekali tidak waras dan melanggar akal sehat.
Penyembelihan hewan yang dibingkai dalam atmosfer kegelapan dan dikaitkan dengan simbol okultisme bukan lagi sekadar elemen properti panggung. Dalam ajaran Islam, tata cara dan niat dalam menyembelih hewan memiliki aturan syariat yang sangat ketat dan mengikat secara spiritual. Allah SWT secara tegas melarang keras segala bentuk penyembelihan yang tidak mengagungkan nama-Nya atau yang diasosiasikan dengan persembahan selain Allah.
Ketika atraksi semacam itu dipamerkan secara terbuka pada momen peringatan Maulid Nabi, tindakan tersebut secara lahiriah telah memenuhi unsur penodaan terhadap kesucian syariat. Mengemas simbolisme perjanjian dengan kegelapan di dalam festival publik adalah bentuk desensitisasi—yakni pengikisan rasa sensitif masyarakat secara perlahan agar menganggap dosa besar dan simbol kemusyrikan sebagai hal yang biasa, sepele, dan layak dijajakan sebagai hiburan.
Bahaya Tasyabbuh dan Ancaman Dosa Syirik
Dalam literatur hukum Islam, tindakan meniru-niru atribut, pakaian, simbol, maupun tradisi khas dari kelompok yang bertentangan dengan ajaran tauhid dikenal dengan istilah Tasyabbuh. Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap tindakan peniruan lahiriah ini, karena penampilan luar memiliki korelasi langsung dengan kondisi batin dan identitas seorang muslim. Rasulullah SAW telah memperingatkan bahaya ini dalam sabdanya:
HR. Abu Dawud (No. 4031): "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."
Hadis sahih ini menjadi peringatan yang menohok bagi siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan pertunjukan tersebut, baik panitia, penampil, maupun penonton yang menikmati jalannya acara. Ketika seseorang dengan santai mengenakan atau memamerkan simbol-simbol yang menjadi ciri khas pemuja setan atau praktisi okultisme demi alasan FOMO (Fear of Missing Out) atau mengejar tren viral di media sosial, ia secara syar'i telah melangkah masuk ke dalam garis batas yang sangat berbahaya.
Lebih jauh lagi, masyarakat perlu menyadari kembali betapa dahsyatnya konsekuensi dari dosa syirik dan penyimpangan akidah. Syirik adalah bentuk kezaliman paling besar di muka bumi dan merupakan satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT jika pelakunya meninggal dunia tanpa sempat bertobat secara nasuha. Allah SWT berfirman:
QS. An-Nisa': 48 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
Anggapan bahwa pertunjukan tersebut "hanya permainan teater" tidak dapat membatalkan ancaman syariat. Al-Qur'an menggambarkan dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan dan mati dalam keadaan belum bertobat akan diharamkan dari surga dan dikekalkan di dalam neraka Jahannam:
QS. Al-Ma'idah: 72 "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun."
QS. Al-Bayyinah: 6 "Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk."
Ancaman hukuman kekal di neraka ini menunjukkan betapa murahnya harga iman jika harus digadaikan hanya demi tepuk tangan penonton beberapa menit, jumlah tayangan di media sosial, atau pujian semu atas nama "kreativitas seni." Di akhirat kelak, seluruh dalih estetika, kebebasan ekspresi, dan alibi teater yang dipakai di dunia akan runtuh sepenuhnya di hadapan keadilan Allah SWT dan ketegasan Malaikat Zabaniyah.
Penegakan Benteng Akidah dan Pelajaran bagi Umat
Tragedi penodaan momen Maulid Nabi di Pekalongan ini harus menjadi alarm keras bagi seluruh komponen umat Islam, pimpinan daerah, serta tokoh masyarakat. Beberapa langkah tegas dan strategis wajib diambil agar peristiwa serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan:
- Pembersihan dan Seleksi Ketat Izin Acara: Pemerintah daerah, dinas kebudayaan, dan aparat kepolisian tidak boleh lagi bersikap ceroboh atau sekadar memberikan izin formalitas tanpa membedah isi dan konsep materi pertunjukan secara mendalam. Acara publik, apalagi yang menumpang nama peringatan hari besar Islam, wajib melalui kurasi etik dan keagamaan yang ketat.
- Penguatan Edukasi Tauhid di Kalangan Kreator: Para pelaku seni, pemuda karang taruna, dan tim kreatif lokal harus terus dibekali dengan pemahaman fikih kebudayaan. Kreativitas harus berjalan di atas koridor etika dan hukum agama; tidak ada ruang bagi penormalan simbol-simbol okultisme atas nama kebebasan seni.
- Keberanian Menolak Penormalan Dosa: Masyarakat muslim harus tetap memiliki keberanian dan kepekaan untuk menegur, menolak, dan menghentikan setiap bentuk pertunjukan yang terindikasi menodai ajaran tauhid. Sikap kritis masyarakat adalah benteng utama dalam menjaga kesucian ruang publik dari pengaruh ideologi-ideologi gelap.
Mempertahankan kemurnian akidah di tengah gempuran tren zaman yang serba acuh adalah kewajiban utama setiap muslim. Momen Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya diisi dengan pembacaan salawat, pengagungan atas keagungan risalah Islam, dan peneladanan akhlak Nabi yang mulia—bukan justru dinodai oleh atraksi kemusyrikan berkedok seni yang memancing kemurkaan Sang Pencipta.







0 komentar:
Posting Komentar
silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah