oleh : M. Ashabus Samaaun
Sejak awal peradaban, manusia melangkah dalam lintasan panjang yang dinamai pencarian kebahagiaan. Dari lorong-lorong kesibukan perkotaan hingga sudut-sudut desa yang sunyi, setiap napas yang dihela dan setiap langkah yang diayunkan pada hakikatnya berhulu pada satu muara: keinginan untuk merasakan kedamaian dan kepuasan hidup.
Namun, dalam pengembaraan yang panjang ini, betapa banyak jiwa yang justru tersesat dari jalan yang lurus. Mereka berlari mengejar bayang-bayang, memburu fatamorgana yang tampak berkilau di kejauhan tetapi tidak memiliki hakikat ketika dihampiri.
Ilusi Kehidupan Dunia dan Fatamorgana Kemewahan
Kesalahan mendasar banyak manusia terletak pada cara mereka mendefinisikan kebahagiaan. Ada anggapan umum yang menyamakan kebahagiaan dengan penumpukan materi, pencapaian kedudukan yang tinggi, pemuasan hawa nafsu tanpa batas, serta raihan popularitas di mata manusia. Dunia yang fana ini kerap menampilkan pesona menipu yang membuat akal terlelap dan hati terbuai.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan hakikat persinggahan duniawi ini dalam Al-Qur'an:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
(QS. Al-Hadid: 20)
Ketika seseorang mengira bahwa puncak kenikmatan ada pada kemewahan fisik, ia sebenarnya sedang meminum air laut. Semakin banyak ia minum, semakin membakar rasa dahaga di dalam dadanya. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menggambarkan dahaga manusia terhadap materi dalam sebuah hadits shahih:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam melainkan tanah (kematian)."
(HR. Bukhari no. 6436 & Muslim no. 1048)
Inilah ilusi materi: ia menjanjikan kepuasan, tetapi hanya memberikan ketagihan tanpa batas akhir.
Penjara Psikologis Kekayaan Tanpa Keimanan
Banyak orang menyangka bahwa memiliki kekayaan bernilai miliaran rupiah adalah kunci otomatis menuju kebebasan dan rasa aman. Reality justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Tanpa landasan iman dan kesadaran spiritual, kekayaan melimpah kerap berubah menjadi sangkar emas yang memenjarakan pemiliknya.
Seseorang yang memusatkan seluruh tujuan hidupnya pada akumulasi aset akan mulai dijangkiti rasa cemas yang berkepanjangan. Kehidupannya dihabiskan untuk tiga hal: menjaga harta yang ada, mengembangkan yang telah dimiliki, dan mengkhawatirkan apa yang belum diraih.
Kepanikan demi kepanikan mulai menggerogoti ketenangan batin:
Takut akan ketidakpastian krisis ekonomi dan penurunan nilai mata uang.
Takut akan musibah yang datang tiba-tiba, seperti kebakaran, banjir, atau bencana alam.
Takut akan kejahatan manusia—pencurian, perampokan, penipuan, hingga ancaman penculikan dan pembunuhan.
Akibat ketakutan tersebut, rasa bebas perlahan sirna. Mereka tidak lagi bisa berjalan dengan leluasa di tengah masyarakat tanpa pengawalan ketat. Mereka tidak dapat Bepergian dengan tenang tanpa rasa was-was, bahkan ketenangan paling dasar seorang manusia—yaitu tidur malam yang nyenyak—menjadi barang langka yang sulit dibeli dengan uang.
Allah Ta'ala menggambarkan bagaimana ketakutan dan kepedihan hidup dapat mendahului seseorang sebelum ia tiba di akhirat apabila ia berpaling dari petunjuk-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit..."
(QS. Thaha: 124)
Kesempitan hidup (ma'isyatan dhanka) di sini bukan sekadar kemiskinan materi, melainkan kehampaan jiwa dan gejolak kegelisahan di dalam dada, meskipun tubuhnya dibalut pakaian termahal dan tinggal di dalam istana termegah.
Ancaman Menimbun Harta dan Melalaikan Hak Sesama
Mengapa harta bisa menjadi sumber petaka dan kesengsaraan? Salah satu penyebab utamanya adalah ketika harta tersebut ditahan dan tidak ditunaikan hak-hak yang melekat padanya. Harta dalam Islam bukanlah kepemilikan mutlak manusia, melainkan amanah dari Sang Maha Pencipta.
Di dalam kekayaan yang dimiliki seseorang, terdapat hak zakat yang wajib dikeluarkan, hak infak, sedekah, serta kepedulian sosial terhadap kerabat, anak yatim, dan kaum dhuafa. Manakala hak-hak ini diabaikan karena sifat bakhil dan serakah, harta berubah fungsi dari sarana kebaikan menjadi racun pembunuh jiwa.
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam pernah memperingatkan bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ
"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, dan celakalah hamba pakaian..."
(HR. Bukhari no. 2887)
Sebutan "hamba dinar" merujuk pada siapapun yang menjadikan uang sebagai poros utama kehidupannya. Ia berwudhu dan beribadah, tetapi hatinya sujud kepada angka-angka saldo.
Ancaman keras bagi mereka yang menimbun harta tanpa menunaikan kewajiban sosialnya tercantum dalam Al-Qur'an:
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah berita pengkhabaran kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih."
(QS. At-Taubah: 34)
Ketakutan akan kehilangan kekayaan sering kali berakhir pada kenyataan pahit yang justru paling dihindari. Banyak contoh di mana kekayaan yang dikumpulkan dalam hitungan dekade sirna dalam semalam akibat kebangkrutan, bencana, atau kecurangan. Sisa hidup orang-orang yang mengagungkan materi ini akhirnya dihabiskan dalam penyesalan mendalam dan penderitaan jiwa yang sukar disembuhkan.
Menemukan Kebahagiaan Sejati: Kekayaan Jiwa dan Ketenangan Hati
Jika harta, jabatan, dan popularitas bukan sumber kebahagiaan sejati, lantas di mana letak kebahagiaan yang sebenarnya? Islam memberikan jawaban yang jelas dan rasional: kebahagiaan sejati (Al-Sa'adah Al-Haqiqiyyah) bertempat di dalam hati yang tenang dan jiwa yang bersyukur.
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam menegaskan redefinisi kekayaan ini dalam sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang sejati adalah kaya jiwa (hati)."
(HR. Bukhari no. 6446 & Muslim no. 1051)
Kaya jiwa (ghina an-nafs) adalah kondisi di mana seseorang merasa cukup (qana'ah) dengan apa yang Allah takdirkan baginya, tidak silau oleh milik orang lain, dan tidak diperbudak oleh keinginan untuk terus menumpuk materi.
Ketenangan batin yang hakiki hanya dapat diraih melalui hubungan yang erat dengan Allah Ta'ala, bukan melalui transaksi duniawi. Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
" (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Dzikir kepada Allah—baik melalui shalat, membaca Al-Qur'an, tafakur, maupun ketaatan harian—memberikan fondasi psikologis yang kokoh. Hati yang terikat pada Sang Maha Kekal tidak akan mudah berguncang oleh pasang surut dunia yang serba sementara.
Konsep Qana'ah dan Memposisikan Dunia dengan Tepat
Islam sama sekali tidak melarang pemeluknya untuk menjadi orang kaya atau memiliki kedudukan tinggi. Sejarah mencatat sahabat-sahabat besar seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhuma adalah para pengusaha besar dengan kekayaan melimpah.
Perbedaannya terletak pada penempatan lokasi kekayaan tersebut:
Model Manusia Terperdaya:
[ Harta & Dunia ] ──► Masuk ke dalam Hati ──► Menimbulkan Kecemasan, Bakhil, & Ketakutan
Model Manusia Beriman:
[ Harta & Dunia ] ──► Cukup di Tangan/Genggaman ──► Digunakan untuk Kebaikan & Ketenangan Jiwa
Bagi hamba yang beriman, harta diletakkan di tangan sebagai alat ibadah, bukan di dalam hati sebagai sembahan. Ketika harta berada di tangan, ia mudah dikeluarkan untuk zakat, infak, dan membantu sesama. Jika harta itu hilang atau berkurang akibat takdir, hatinya tidak patah karena ia tahu bahwa Pemilik sejati dari segala sesuatu adalah Allah.
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam memberikan resep kehidupan yang bersahaja namun kaya melalui haditsnya:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
"Barangsiapa di antara kalian menyongsong pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk harinya, maka seolah-olah dunia dan isinya telah diserahkan kepadanya."
(HR. Tirmidzi no. 2346, dihasankan oleh Al-Albani)
Hadits ini meruntuhkan standar rumit kebahagiaan buatan manusia modern. Tiga hal sederhana—keamanan, kesehatan, dan kecukupan rezeki harian—sudah mencakup puncak kenikmatan hidup jika dibalut rasa syukur.
Langkah Praktis Membangun Kembali Arah Kehidupan
Untuk keluar dari jebakan fatamorgana dunia dan meraih kedamaian jiwa yang hakiki, ada beberapa langkah yang perlu ditanamkan dalam keseharian:
Meluruskan Orientasi Hidup
Menyadari bahwa dunia adalah sarana (wasilah), bukan tujuan akhir (ghayah). Setiap harta dan jabatan yang diraih harus dipertanyakan kembali manfaatnya untuk kehidupan abadi di akhirat.
Menunaikan Hak-Hak Harta Tanpa Ragu
Mengeluarkan zakat wajib tepat waktu dan membiasakan sedekah secara rutin. Sedekah tidak akan mengurangi harta; sebaliknya, sedekah menyucikan kekayaan dan memberikan keberkahan yang menenangkan jiwa.
Melatih Sikap Qana'ah
Melihat ke bawah dalam urusan materi duniawi dan melihat ke atas dalam urusan ibadah serta ketaatan. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim no. 2963).
Memperbanyak Mengingat Kematian
Mengingat bahwa seluruh aset dan gelar akan ditinggalkan di liang lahat membantu meredam sifat kesombongan, ketakutan berlebihan, dan ketamakan terhadap materi.
Memperkuat Dzikir dan Ibadah Khusyuk
Menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berduaan dengan Sang Pencipta melalui shalat, doa, dan bacaan Al-Qur'an demi mengisi ulang kekuatan batin.
Kesimpulan
Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang dapat dibeli di pasar materi, tidak pula diukur dari seberapa tebal saldo simpanan atau seberapa tinggi jabatan yang disandang. Memburu kebahagiaan pada harta tanpa iman ibarat mengejar bayangan: semakin cepat berlari, semakin jauh ia melarikan diri.
Kedamaian yang hakiki adalah buah dari ketakwaan, rasa syukur, keikhlasan, dan keterikatan hati hanya kepada Allah Ta'ala. Ketika seseorang berhasil membebaskan hatinya dari perbudakan materi dan menjadikan hartanya sebagai sarana ketaatan, di situlah ia akan menemukan kebebasan yang sejati—kebebasan dari rasa cemas, kebebasan dari rasa takut, serta kenikmatan hidup yang lapang baik di dunia maupun di akhirat kelak.
wallahu alam





