Jumat, 25 November 2011

Prinsip Dasar Tauhid Ahlussunah Wal Jama'ah

 

Syarat utama menjadi orang islam (muslim) adalah mengucapkan dua kalimat syahadat (Asyhadu alla ilaha illallah, Wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah) yang artinya "aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (Tuhan) melainkan hanya Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah rasul (utusan) Allah". 
Kalimat Dua Kalimat Syahadat yang diikrarkan seorang muslim tidak cukup hanya dimulut saja atau dihati saja tanpa ada konsekuensi pengamalannnya. Begitu pentingnya tauhid ini sehingga pantas kalau dikatakan seorang ulama seluruh isi al-Qur’an mengajarkan tauhid. Memang perbedaan orang islam dengan orang kafir adalah dari segi tauhid jika tauhid sudah salah maka dia tidak bisa dianggap seorang muslim lagi. Oleh karena dari pentingnya masalah ini mari kita kaji bersama-sama ilmu tauhid dan prinsipnya dari dasar.

Prinsip pertama yang dijadikan pondasi oleh ahlussunnah dalam membangun manhaj dakwah mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tauhid atau dengan istilah lain mengikhlashkan keseluruhan agama ini hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak diragukan lagi bahwa tauhid adalah pondasi dakwah para Rasul, pembuka, dan intinya. Tidak ada seorang Nabi dan Rasul melainkan mengajak umatnya untuk menyembah kepada Allah dan mentauhidkannya serta mencampakkan sekutu-sekutu daripada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: “bahwasannya tidak ada sesembahan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.”(QS al-Anbiya’: 25)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).QS an-Nahl: 36)
Para ulama telah sepakat bahwa tauhid adalah kewajiban pertama bagi setiap orang mukallaf. Imam Abu Hanifah misalnya mengatakan: “Pendalaman dibidang ad-din adalah lebih utama daripada pendalaman di bidang al-‘ilm.” Yang dimaksud dengan ad-din disini adalah tauhid sedang yang dimaksud dengan al-‘ilm adalah as-syari’ah. Maka beliau menjadikan fiqhut tauhid lebih didepankan daripada fiqhu as-Syari’ah.
Syaikhul Islam al-Harawi al-Anshari (396-481 H) diawal kitabnya I’tiqad Ahlus Sunnah menyatakan: “Sesungguhnya kewajiban pertama kali atas hamba adalah ma’rifatullah (mengenal Allah ‘Azza wa Jalla) berdasarkan hadits Mu’adz Radhiallahu ‘Anhu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلىَ قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةَ اللهِ فَإِذَا هُمْ عَرَفُوا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ …
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum ahli kitab, maka hendaklah pertama kali yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah semata. Maka apabila mereka telah mengenal Allah beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam.....[Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa]

PENGERTIAN TAUHID
Yang dimaksud dengan tauhid oleh ulama ahlussunnah adalah memurnikan seluruh penghambaan (ibadah) hanya untuk dan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah dalam bentuk ibadah hati atau ibadah anggota badan. Maka tidak boleh mengalahkan satu macam ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla karena hal itu berarti menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang lain.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah kata benda yang berasal dari perubahan kata kerja ’wahhada-yuwahhidu’ yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat (al-Qaul al-Mufid, I/5)

Syaikh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal Dzat dan sifat-sifat-Nya, tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadatan, tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para Nabi dan Rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat, pen). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya maka hal itu tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama (Ibthal at-Tandid, hal. 5-6).

Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ’La ilaha’ adalah penafian. Kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ’illallah’ adalah itsbat/penetapan. Kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah (at-Taudhihat al-Kasyifat, hal. 49).

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan menjelaskan bahwa hakekat iman kepada Allah adalah tauhid itu sendiri. Sehingga iman kepada Allah itu mencakup ketiga macam tauhid; rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat (al-Irsyad ila Sahih al-I’tiqad, hal. 29).

Di samping itu, keimanan seseorang kepada Allah tidak akan dianggap benar kalau hanya terkait dengan tauhid rububiyah saja dan tidak menyertakan tauhid uluhiyah. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kaum musyrikin dahulu yang juga mengakui tauhid rububiyah. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi dan mengajak mereka untuk bertauhid. Hal itu dikarenakan mereka tidak mau melaksanakan tauhid uluhiyah.
Tauhid dalam pengertian ahlussunnah mencakup tiga bagian;
1.      Tauhid rububiyah,
2.      Tauhid uluhiyah, dan
3.      Tauhid asma wa sifat.
Ketiga unsur tauhid ini tersebar dalam ayat-ayat al-Quran. Bahkan, telah disebutkan didalam surat al-Fatihah, surat teragung yang menjadi pembuka bagi kitab suci al-Quran dan yang diulang-ulang bacaannya oleh orang mukmin dalam setiap shalatnya.
Tauhid rububiyah telah dikenalkan melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [رَبِّ الْعَالَمِيْنَ], karena kata [الرَّبُّ] berarti Pencipta, Pemilik dan Pengatur makhluk-Nya dengan segala perintah-Nya. Begitu pula dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ] karena diantara konsekuensi rububiyah adalah isti’anah (meminta pertolongan) itu hanya kepada al-Rabb.
Adapun Tauhid uluhiyah, maka dikenalkan lewat firman-Nya [الْحَمْدُ ِللهِ]. Kata [الله] memiliki makna [ذُو اْلأُلُوْهِيَّة , الْمَأْلُوْه] yang artinya Maha disembah atau berhak disembah. Sebagaimana pula uluhiyah ini ditunjukkan dalam firman-Nya [إِيَّاكَ نَعْبُدُ]. Jadi, Allah adalah satu-satunya [الْمَعْبُوْد] yang berhak disembah yang wajib diarahkan kepada-Nya seluruh macam ibadah dan tidak boleh diarahkan kepada selain-Nya. Oleh karena itu, ayat itu berbunyi [إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ] “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.”
Ayat ini berisi dua ajaran pokok yang agung yang merupakan pilar agama dan maksud al-Quran yang terpenting yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mentauhidkan Allah dalam isti’anah, do’a, dan tawakkal yang menjadi konsekuensi daripada rububiyah. Adapun tauhid asma wa sifat maka surat al-Fatihah telah menyebutkan tiga nama yang menjadi muara dari segala asmaul husna dan sifatul ula, yaitu [الله],  [الرَّبّ] dan [الرَّحْمَن].
Sedangkan diantara ayat-ayat al-Quran yang mengandung ketiga bagian dan macam tauhid yang tiga ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً
“Tuhan (yang mengusai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65)

A.    Pengertian Tauhid Rububiyah
Yang dimaksud dengan istilah tauhid rububiyah adalah membenarkan secara sempurna, meyakini secara pasti tanpa ada keraguan dan sangkaan sedikitpun bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah satu-satunya yang mencipta, memberi rizqi, mengatur, memiliki, menghidupkan, dan mematikan, mengetahui yang ghaib, dan yang menentukan segala sesuatu yang besar maupun yang kecil, yang baik dan yang buruk. Dan juga meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya murabbi (Pembimbing) bagi seluruh makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya yang nyata dan yang tersembunyi. Diantara nikmat tersebut adalah pengutusan Rasul dan Nabi untuk memberi petunjuk manusia kepada tauhid dan kepada agama Allah yang lurus hingga tidak ada lagi alasan bagi manusia atas Allah setelah terutusnya para Rasul. Juga meyakini bahwasannya setiap yang terjadi dialam semesta ini sesungguhnyalah dia terjadi berdasarkan perintah Allah dan kehendak-Nya Subhanahu wa Ta’ala tidak ada yang dapat  mengelak dari hukumnya dan tidak ada yang menolak dari putusan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya didalam kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya. Tauhid ini biasa disebutkan dengan istilah mentauhidkan Allah dengan segala perbuatan-perbuatan-Nya.
Diantara ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan tentang unsur tauhid rububiyah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Katakanlah: “siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dalam dari kebenaran ini?” (QS. Yunus: 31-32)

B.     Pengertian Tauhid Uluhiyah
Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyembah-Nya, mengagungkan-Nya, mentaati-Nya, beristiqamah diatas perintah-Nya, dan perintah nabi-Nya, tidak menyekutukan sesuatu yang lain bersama-Nya dalam ibadah, tidak menjadikan sekutu dan perantara bersama-Nya atau kepada-Nya, dan tidak meminta syafaat atau bertawassul kepada-Nya kecuali dengan apa yang Dia izinkan dari hal-hal yang syariatnya ada dalam al-Quran dan sunnah Rasul-Nya. Tauhid ini biasa disebut dengan ‘mentauhidkan Allah dengan segala perbuatan hamba-Nya, dengan mengkhususkan seluruh perbuatan hamba dalam beribadah hanya kepada-Nya semata tanpa menyekutukan sedikitpun.
Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan merealisasikan syarat ikhlash dalam keseluruhan ketaatan dan ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al-An’am: 162-163)

C.    Pengertian Tauhid Asma Wa Sifat
Maksud dari tauhid asma wa sifat adalah mengimani secara yakin dan membenarkan secara mutlaq bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang baik yang Dia gunakan untuk menamai diri-Nya. Maka semua nama-Nya yang hadir dalam kitab suci al-Quran atau dalam sunnah Nabi yang mulia wajib diimani bahwa ia adalah bagian dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla. Dan wajib pula mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senang dipanggil dan diseru dengan nama-nama yang mulia ini, dan senang kepada orang-orang yang mendekat kepada-Nya melalui nama-nama ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180)
Buraidah Ibnul Hushaid Radhiallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berdo’a:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ .
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, bahwasannya aku bersaksi bahwa engkau sesungguhnya adalah Allah yang tidak ada ilah (sesembahan) kecuali diri-Mu yang Maha Tunggal lagi Maha Sempurna yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ بِالاسْمِ الَّذِيْ إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطىَ وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ
“Sungguh engkau telah meminta kepada Allah, dengan menyebut nama-Nya yang apabila Dia diminta dengannya pasti memberi, dan bila diseru dengannya pasti menjawab.”
[Hadits ini diriwayatkan oleh : Ahmad (5/349, 360), Abu Dawud (1493, 1494), Turmudzi (3475), Nasa’i dalam al-Kubra, Ibnu Majah (3857) dari jalur Malik ibn Moghol dari Abdullah Ibn Buraidah dari bapaknya. Sanadnya shahih.]
Semisal hadits diatas adalah hadits Ali Ibn Abi Thalib, dia mengatakan: “Saya diajari oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila ada kesusahan yang menimpaku, hendaknya aku mengatakan
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ سُبْحَانَ اللهِ وَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ وَالْحَمْدُ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
‘Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah yang Maha Santun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, dan Maha Suci Allah Pemilik ‘Arsy yang agung, dan segala puji bagi Allah pemilik alam semesta.”
[HR. Ahmad (1/91,94), An-Nasa’i dalam al-Yaum wal Lailah (636,637), Ibnu Hibban (Mawarid: 2371), sanadnya shahih.]

Disamping hadits-hadits ini masih banyak hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertawassul mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang luhur dalam do’a-do’anya. Semua ini memberi bukti yang nyata tentang keutamaan beribadah kepada Allah dengan menyebut asmaul husna. Ini artinya tidak boleh menyebut Allah atau menyeru Allah dengan nama-nama yang dibikin oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu yang suka merancukan agama dan mengaburkan ajaran Islam seperti ucapan mereka [يَاهُو], [يَاقَدِيْم] atau nama-nama lain yang direkayasa dalam bahasa ‘ajam seperti bahasa suryaniyah, urdu, jawa yang tidak datang keterangannya dalam syariat Islam.
Sedangkan yang dimaksud dengan tauhid sifat adalah mengimani dan menetapkan sifat-sifat mulia dan agung yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang telah ditetapkan untuk-Nya oleh Nabi-Nya, tanpa memalingkan maknanya, tanpa menggantinya, tanpa mengingkarinya, tanpa menyerupakannya dan tanpa mempersoalkannya. Ahlussunnah mengimani maknanya dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mensucikan Allah secara mutlak bahwa Allah Maha Suci tidak ada sesuatu apapun di langit dan di bumi yang menyerupai-Nya. Dia Maha Suci dari penyerupaan dan Maha Suci dari kekurangan. Jadi, ahlussunnah benar-benar mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dalam menyikapi dan memahami ayat dan hadits sifat jauh dari penyimpangan Jahmiyah,  Asya’irah, Mufawwidah dan ahli bid’ah lainnya.
Kesimpulannya, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah sesuatu yang pertama kali harus dimulai oleh setiap da’i dalam dakwahnya, harus memfokuskannya dalam perjalanan dakwahnya, harus mengerahkan dan mencurahkan seluruh perhatiannya karena tauhid adalah asas agama dan pokok aqidah yang daripadanyalah terbangun berbagai macam syariat dan hukum dalam segala bidangnya. Dari sini kita tahu mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankan dakwahnya kepada tauhid dan menjadikannya sebagai inti wasiatnya kepada Mu’adz ibn Jabal Radhiallahu ‘Anhu.
Maka kewajiban setiap da’i adalah memperhatikan pengarahan Nabi yang mulia ini kemudian berteladan dengannya dan berpegang teguh dengan segala upaya untuk mempraktekkannya didalam dakwahnya demi mengikuti pemimpin para da’i Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rujukan kitab
-          Al-Ushul Allati Bana Alaiha Ahlul Hadits Manhajahum Fid Da’wah Ilallah tulisan ‘Amr Abdul Mun’im Salim,
-          Juga kitabnya yang berjudul al-Manhajus Salafi li Syaikh Nashiruddin al-Albani,
-          kitab Manhajud Da’wah Ilallah tulisan DR. Abdurrahim ibn Muhammad al-Maghdzawi, dan
-           kitab Sittu Dhurar Min Ushul Ahlil Atsar tulisan Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi.
Referensi  :
-          (Majalah Qiblati Ed. 7 Th. I)
-             Berbagai sumber.

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentarnya jika ada link mati harap lapor. jazakumullah